Home Daerah Dana Pendidikan APBD 2016 Cianjur, Menukik Turun

SN, CIANJUR – DPRD Kabupaten Cianjur mendesak Pemkab Cianjur agar lebih memiliki kepedulian terhadap kemajuan dunia pendidikan di Cianjur yang selama sepuluh tahun ini terpuruk dan termasuk yang terendah di Provinsi Jawa Barat.

Hal itu dipicu minimnya anggaran sektor pendidikan yang tertuang di dalam Rancangan Anggaran dan Belanja Daerah (RAPBD) Kabupaten Cianjur 2016 mendatang yang hanya sebesar Rp64,2 miliar.

Di sisi lain, Pemkab Cianjur mendapatkan kucuran dana insentif dari Pemerintah Pusat sebesar Rp40,405 miliar.

Anehnya, Pemkab Cianjur di bawah pimpinan Bupati Tjtetjep Muchtar Soleh sepertinya enggan mengalokasikan anggaran tersebut untuk menambah anggaran pendidikan.

Pemkab Cianjur malah bakal mengalokasikan anggaran tersebut untuk sektor infrastruktur.

Besaran anggaran sektor pendidikan dalam RAPBD Kabupaten Cianjur yang hanya Rp64,2 miliar itu tidak mencapai setengahnya jika dibandingkan dengan anggaran tahun lalu yang mencapai Rp129,2 miliar.

Berdasarkan penjelasan pemkab, turunnya anggaran pendidikan di Cianjur itu diakibatkan karena dihentikannya dana alokasi khusus bagi Cianjur.

Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Cianjur, Sapturo, menegaskan, suntikan dana insentif dari pusat itu harusnya digunakan pemkab untuk menambah anggaran pendidikan yang dinilainya sangat teramat minim.

Apalagi, pemkab semestinya tidak menutup mata jika anggaran pendidikan di Cianjur tidak bisa mencukupi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan.

“Selama ini alasannya selalu soal DAK saja. Tapi selama ini juga, yang menganggarkannya juga pemkab sendiri. Seharusnya, dana insentif itu ditambahkan ke sektor pendidikan,” tegas Sapturo usai Rapat Paripurna di Gedung DPRD Cianjur, Rabu (25/11).

Anggota Fraksi Partai Golongan Karya itu menyebut, adalah hal yang mustahil, nilai yang sudah tertuang dalam RAPBD Kabupaten Cianjur 2016 bakal berubah. Apalagi menyangkut alokasi yang ditetapkan sebagai prioritas pembangunan daerah.

Dewan, lanjut dia, akan terus mendesak agar sektor pendidikan ditambah sebagai bukti keseriusan pemkab membangun pendidikan di Cianjur.

“Kalau menunggu bantuan dari provinsi atau pusat, nilainya belum tentu sesuai maka harus dipersiapkan oleh daerah. Anggaran ini harus diubah, apakah lewat murni sekarang, pada parsial atau perubahan yang diajukan Juni nanti. Tapi penambahan ini harus, minimal nilainya sama dengan tahun ini meskipun itu masih kurang,” jelas dia.

Suntikan dana insentif daerah itu merupakan penghargaan bagi Cianjur sebagai daerah yang menetapkan APBD tepat waktu. Cianjur pun berhasil meraih predikat wajar tanpa pengecualian (WTP) dalam pengelolaan keuangan tahun 2014. Berdasarkan keterangan pemkab, dana tersebut telah sampai di daerah.

Sementara, Ketua DPRD Kabupaten Cianjur, Yadi Mulyadi, menyatakan tidak jauh berbeda. Dia mengakui, memang perlu ada penambahan anggaran berbagai sektor, termasuk pendidikan. Menurut Yadi, minimnya anggaran disebabkan pendapatan asli daerah yang minim. Padahal masih terdapat celah PAD yang dapat dimaksimalkan.

“Saya lebih melihatnya pada tidak maksimalnya pendapatan yang masuk. Misalnya dari pajak bumi dan bangunan, pajak restoran dan hotel sampai pajak penerangan jalan umum. Tapi ini masih kurang sehingga alokasi ke sektor-sektor juga otomatis minim. Semua sektor harus ditambah, termasuk pendidikan,” kata dia.

Di sisi lain, Bupati Tjetjep Muchtar Soleh mengatakan, tidak ada pemangkasan anggaran pendidikan. Menurut dia, Pemkab telah mengalokasikan anggaran sesuai ketentuan yakni 20% dari APBD. Sedangkan mengenai penurunan angka, kata dia, hal itu disebabkan belum adanya kepastian jumlah dana perimbangan yang masuk ke Cianjur.

“Jadi bukan diturunkan, anggarannya masih sama tapi DAK-nya belum dimasukkan karena belum pasti diterima atau tidak. Jumlahnya pun belum ditentukan,” kata dia.

Mengenai suntikan dana dari pusat, kata dia, telah memiliki ketentuan alokasi. Sesuai aturan dana itu dialokasikan untuk infrastruktur.

“Berarti kami tidak bisa sembarangan mengalokasikannya karena hanya untuk infrastruktur Cianjur, sesuai kajian, paling membutuhkan perbaikan infrastruktur. Maka dana tersebut bakal digunakan untuk perbaikan infrastruktur jalan, irigasi dan pengairan,” kata dia.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Cecep Alamsyah mengakui anggaran pendidikan memang sangat minim. Untuk itu penggunaannya nanti lebih difokuskan untuk perbaikan kualitas tenaga pendidik.

“Iya kami fokuskan untuk perbaikan sarana dan prasarana dulu. Baru setelah itu yang lain-lainnya,” singkat dia.

(RUH)

loading...

Balasan