Home Bisnis YLKI Tantang Menhub Berani Audit Lion Air

SN Jakarta : Berani tidak Kementerian Perhubungan mengaudit sisi hulu Lion Air? Auditnya harus dari semua aspek.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) angkat bicara soal keterlambatan berkepanjangan maskapai Lion Air yang dinilai merugikan pengguna jasa penerbangan tersebut.

YLKI menantang Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi yang belum lama di lantik untuk membenahi Lion Air.

Keterlambatan berkepanjangan Lion Air terjadi pada Minggu (31/7) yang disebabkan oleh permasalahan  teknis yang dialami pesawat dan pergantian kru maskapai yang memakan waktu lama.

Akibatnya lima jadwal penerbangan, yakni JT 590 tujuan Surabaya, JT 582 tujuan Surabaya, JT 650 tujuan Lombok, JT 630 tujuan Bengkulu, dan JT 526 tujuan Banjarmasin urung berangkat sejak Minggu petang, dan baru bisa berangkat Senin (1/8) pagi.

Tulus Abadi, Ketua Pengurus Harian YLKI, mengatakan, pembenahan Lion Air harus dilakukan mulai dari akarnya.

“Penyakit Lion Air itu ada di sisi hulu. Berani tidak Kementerian Perhubungan (Kemhub) mengaudit sisi hulu Lion Air? Auditnya harus dari semua aspek,” kata Tulus, Selasa (2/8).

Tulus merinci, proses audit harus dilakukan mulai dari aspek di dalam Tulus perusahaan, maupun aspek lapangan dan praktik penerbangannya.

“Mulai dari sisi finansial, jumlah pilot, jumlah pesawat, rute dan jumlah jadwal penerbangan. Itu semua harus diaudit,” Kata Tulus.

Tulus mengatakan, bilamana hasil audit menunjukkan hasil yang buruk, maka Kemenhub harus memberikan tindakan tegas kepada Lion Air.

“Berikan sanksi jika hasil audit total itu buruk,” kata Tulus.

Memanggil

Sementara itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memanggil manajemen Lion Air untuk dimintai penjelasan atas peristiwa keterlambatan.

Dalam pertemuan yang berlangsung selama dua jam sejak pukul 10.00, Budi memintai klarifikasi Lion Air yang diwakili oleh Direktur Umum Lion Air Edward Sirait.

“Dengan duduk bersama dalam rapat klarifikasi, dihadapkan permasalahan sesungguhnya yang terjadi di lapangan dapat diketahui untuk kemudian dicarikan solusi bersama,” kata Hemi, Pamuraharjo Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Perhubungan.

Hemi mengatakan, dalam pertemuan tersebut Budi dan Edward hanya membahas soal operasi Lion Air di darat dan udara yang berkaitan dengan slot, ATC, tiket, dan daftar tunggu.

Menteri Perhubungan, kata Hemi, belum memutuskan untuk menjatuhkan sanksi kepada maskapai berlogo singa bersayap tersebut.

“Hasil pertemuan tersebut masih akan dievaluasi, untuk hasilnya akan segera diketahui dalam waktu dekat,” kata Hemi.

Tidak Menjamin

Sedangkan Edward Sirait meminta maaf dihadapan media, “Kami minta maaf atas kejadian ini,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut Edward menyampaikan jika banyak hal yang menjadi faktor terjadinya keterlambatan Lion Air bukan hanya kemarin Minggu, namun juga sebelum-sebelumnya, dia antaranya faktor cuaca.

“Misalnya kami mau ke Medan, tapi bandara tutup karena cuaca, kemudian dialihkan ke kota lain, menunggu. Seharusnya pesawat dipakai Aceh, jadi Medan dan Aceh telat,” Kata Edward.

Edward mengatakan, faktor keterlambatan dalam satu penerbangan sangat dinamis, oleh karena itu Lion Air tidak bisa dijamin akan selalu tepat waktu.

“Saya bukan Tuhan bisa menjamin, yang bisa jamin itu hanya Tuhan,” kata Edward.

Namun demikian, kata Edward, selama ini Lion tidak hanya berdiam diri untuk memperbaiki masalah keterlambatan yang kerap kali terjadi dalam penerbangan Lion Air.

“Buktinya OTP (on time performance) kami meningkat, terakhir bulan Mei menyentuh angka 80 bukan lagi 70 seperti bulan-bulan sebelumnya,” kata Edward.

Edward mengatakan, perbaikan masalah penundaan tersebut atas dasar sanski yang telah diberikan Kemhub pada Mei lalu yang masih berlaku selama enam bulan hingga Oktober mendatang.

Sanksi pelayanan penambahan rute baru yang diberikan lantaran sering kali penerbangan Lion terjadi tertunda, selain itu sanksi diberikan karena kasus ground handling, Lion salah menurunkan penumpang internasional ke terminal domestik.

“Kami dilarang menambah jumlah pesawat dan rute, sanksi itu cukup berat, tapi kami jalankan, kami harus berbenah dari dalam,” kata Edward.

Sumber : YLKI

loading...

Balasan