Home Ekonomi ISTMI : Pentingnya Roadmap Industrialisasi Dalam Pencapaian Pembangunan Nasional

SN Jakarta : Industri pengolahan merupakan penyumbang terbesar PDB di Indonesia dengan angka sebesar 21% dari total Pendapatan Domestik Bruto Indonesia, Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Ikatan Sarjana Teknik Industri dan Management Industri Indonesia, Ir. Faizal Safa, Msc, IPM  didampingi Sekjend ISTMI, Andre Mulpyana, BSIE, MSIE di acara Sarasehan Komunitas Teknik Industri Indonesia, dengan tema “Pencapaian Pembangunan Nasional Bidang Keuangan, Industri, dan Logistik” Rabu (14/6) di Jakarta Golf Club Rawamangun.

Saat ini kebutuhan barang konsumsi di mancanegara, hampir 80% disupport dari produk hasil Indonesia. Sehingga ketergantungan Indonesia terhadap perdagangan komoditas berperan sebagai Prime Mover yang cukup tinggi, diikuti oleh Industri Konsumsi seperti bahan makanan dan minuman yang memiliki kontributor terbesar kedua terhadap nilai agregat PDB.

Tantangan Industri di Indonesia saat ini terletak pada efisiensi dan inovasi, seperti contohnya kelapa sawit yang merupakan salah satu industri yang memerlukan banyak inovasi. sehingga untuk membuat industri dari aspek hilirnya harus nemiliki utilitas yang optimal dan efisien untuk mencapai hasil optimal pula.

Selain itu perlu juga dilakukan usaha menyehatkan struktur pasar di semua lini Industri dengan lebih baik, sehingga proses pembentukan harga pun akan lebih stabil, fair, dan sesuai antara supply dan demand.

Target pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah 6% dan diharapkan dapat stabil hingga tahun 2045 dengan target PDB mencapai 9,1 Triliun USD dengan asumsi penduduk 309 juta orang dan GDP sebesar 29.300 USD. Sebagai perbandingan PDB di China di tahun 2045 menargetkan 14 triliun USD dan PDB di Amerika Serikat dengan target 18 triliun US

Tantangan Industri di Indonesia berikutnya dari sisi distribusi. Ketergantungan Industri Makanan dan Minuman terhadap Infrastruktur Transportasi, logistic dan sumber daya energi menjadi sangat tinggi. Oleh karenanya diperlukan roadmap Industrialisasi.

ROADMAP INDUSTRIALISASI INDONESIA

ISTMI membagi 4 sub tema pembahasan dalam membuat roadmap Industrialisasi menghadapi tantangan industri di Indonesia, yaitu :

a. Industri Agro

Saat ini total ekspor Industri Agro hanya berkisar 40%, hal tersebut dikarenakan serapan tenaga kerja di Industri Argo masih relatif sedikit ditambah lagi minimnya penelitian tentang benih atau bibit agro yang mengakibatkan benih tanam di Industri Agro masih mayoritas Import

ISTMI menganggap bahwa perlu dibuat Rencana Induk atau Master Plan dalam pengelolaan industri argo selain diperlukannya subsidi.

Dalam hal kebijakan perlu adanya revisi kebijakan investasi agar Industri Agro dapat di masukan sebagai komponen dalam kebijakan tersebut. Selain itu perlu dibuat kebijakan yang mencakup tata kelola dan tata niaga Industri, sehingga Industri Agro dapat menjaga kestabilan dan pemerataan kemakmuran serta terhindar dari disparitas harga yang terlalu besar gap nya.

Perbaikan dan peningkatan Produktifitas Industri Agro sangat diperlukan karena berdampak pula pada peningkatan pendapatan para petani dan pelaku Industri Agro lainnya serta para pemangku kepentingan.

Faktor lain tak kalah pentingnya adalah variable di dalam lingkungan masyarakat serta lingkungan industri yang cukup dinamis dan berubah-ubah. Ini perlu di identifikasi dan antisipasi, salah satunya dengan cara melakukan produk desain dan desain industeri yang mengikuti perubahan.

b. Kawasan Industri

Mengacu pada tahun 2015, Realisasi Kawasan Industri didominasi oleh industri otomotif, dan ditahun 2016 Realisasi Kawasan Industri dinilai sangat rendah, padahal benefit (manfaat) dari sebuah Kawasan Industri yang baik, salah satunya adalah dapat mempermudah pengurusan perizinan yang terintegrasi. Hal ini sangat dibutuhkan untuk dapat membentuk UKM center yang akan dapat mem fasilitasi bantuan Teknologi dan Pendanaan bagi para UKM. Namun amat disayangkan pula Research and Development untuk Industri juga masih belum memadai.

c. Industri Makanan dan Minuman

Indonesia saat ini sudah banyak investasi pabrik makan minuman (mamin) namun banyak yang belum produksi, ini di sebabkan karena Industri Mamin sangat tergantung terhadap infrastruktur fisik, baik dalam hal ketersediaan Infrastruktur Transportasi dan Logistik. Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri bagi industri di Indonesia, selain ketersediaan bahan kimia dan packaging yang mudah murah dan reliable bagi para UKM.

Local Value Chain yang belum stabil dan terancam di ambil asing menjadi peluang dari Industri Mamin Indonesia, oleh karenanya diperlukan Regulation Impact Assessment

Tentunya Roadmap Industri Mamin yang terintegrasi dan komprehensif menjadi suatu keharusan bagi Indonesia, seperti contoh implementasi food estate.

d. Strategic Business Industri serta Capital Investment

Daya saing nasional sangat tergantung akan teknologi baru dan inovasi industri, disamping itu saat melakukan eksekusi nasional perlu adanya keselarasan dengan eksekusi didaerah. Dalam pelaksanaannya penjabaran secara terperinci dari Master Plan Industri sangat diperlukan.

Terkait Perbaikan strategi proses bisnis yang terdiri dari , Cost Reduction, Product Development leadership dan Supply Independence harus digalakkan, oleh karenanya perlu diadakan “Lock In Strategy” atau strategi pembatasan Captive Supply dan/atau demand dalam Industri di Indonesia.

Untuk peluang investasi di sisi industri retail saat ini sudah mulai di tangani atau di berikan solusi dengan menggunakan strategi “Fin Tech”; yaitu salah satu nya dengan “Community Based Fund Management”. (Karmila)

loading...

Balasan