Home Life Style ‎16 Lagu Terbaik Anak Indonesia Hasil Lomba Cipta Lagu Anak Indonesia

SN Jakarta – Masih terngiang dalam ingatan para pecinta lagu anak- anak Indonesia, Minggu pagi (27/2/1994) pukul 10.00 WIB di stasiun televisi RCTI di tayangkan rekaman pagelaran Gebyar Lagu Anak Indonesia (GLAI).

Sebanyak 16 lagu anak karya terbaru waktu itu, merupakan pilihan terbaik dari 2.451 lagu anak yang masuk ke panitia penyelenggara dalam Lomba Cipta Lagu Anak Indonesia (LCLAI) hasil karya 1.189 orang. Lomba itu diselenggarakan oleh Tahapan BCA, dibantu harian Kompas dan RCTI.

Munculnya tayangan Gebyar Lagu Anak Indonesia, secara tidak langsung menjawab rasa ingin tahu masyarakat akan lagu-lagu anak-anak yang disebut-sebut sesuai dengan jiwa anak. Sejak lagu itu digelar di Jakarta Hilton Convention Centre (JHCC) awal Februari 1994 lalu, Redaksi Kompas sering menerima telepon dari masyarakat yang mempertanyakan kapan dan di mana lagu-lagu itu bisa mereka nikmati. Bahkan pertanyaan-pertanyaan ini pun masih muncul sampai pertengahan pekan terakhir Februari 1994. Dengan adanya rencana untuk menayangkan lagu-lagu itu oleh RCTI, berbagai pertanyaan waktu itu seolah sudah terjawab. “Nah, begitu dong …,” ujar seorang penelepon.

Dipandu artis yang banyak menggeluti dunia anak, Henny Purwonegoro, GLAI juga dimeriahkan tampilnya keluarga Bobo. Diawali penampilan pemenang lomba paduan suara anak-anak se-Jabotabek, SD Islam Dian Didaktika Cinere, mereka membawakan sejumlah lagu secara medley – Dendang Kencana (AT Mahmud), Bintang Kecil (Pak Dal), Pelangi (AT Mahmud), Naik Delman (Pak Kasur), Berkebun (Ibu Soed). Penonton seolah diajak untuk mengingat masa lalu, suatu masa yang penuh kenangan bagi mereka yang belakangan itu sudah dewasa atau mungkin sudah tua. Lagu-lagu itu pantas dijuluki lagu-lagu legenda.

Tayangan dan tampilan 16 lagu anak-anak terbaik itu berturut-turut lagu Bermain dan Bernyanyi karya Budi Darmawan, alumnus FISIP Universitas Diponegoro Semarang yang sehari-hari menjadi Pemimpin Perusahaan surat kabar mingguan Bina. Disusul Prakarya karya Ny. M.L. Raharsi Gunarto, seorang ibu rumah tangga yang waktu itu aktif dalam paduan suara gereja. Lagu Beternak Ayam karya Anita Asale, dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga yang belakangan itu mengikuti program pasca sarjana sebuah perguruan tinggi.

Kemudian, lagu Tabungan Kodok karya AR Amron Trisnardi dari Yogyakarta. Lalu disusul lagu yang bergaya “Glodok”, Si Ikal Mayang karya R. Toha Munadjat, alumni STIA Lembaga Administrasi Negara yang belakangan itu menjadi karyawan Departemen Penerangan. Sesudahnya tampil Cibi Kucingku karya Meilita Manusama, asisten manager PT Rimbadana Sahati yang biasa menjadi dirigen paduan suara. Menyusul di belakangnya, Guru Yang Kusayang karya Ny. Alberthina Binnendyk guru TK yang suka menyanyi dan lahir di Jerusu, Roma.

Kemudian, Melati untuk Ibu karya Kasturi Yusuf, Kepala sekolah sebuah SD di Moga, Pemalang, Jawa Tengah.

Penampilan itu disusul lagu Tulus karya Encep Andi Somad, karyawan PT Gramedia. Pagi Indah Theresia Karnadi Rosari, ibu tiga anak yang insinyur teknik sipil dan menjadi Deputy Director PT Freyssinet Total Technology, dikumandangkan berikutnya. Sesudah itu Semut Hitam karya Drs Soeparman Hardjo, karyawan Badan Pertanahan Nasional Tegal yang saat itu tinggal di Semarang. Lantas muncul Lima Jari Bersatu karya Samidi Sunupratomo, karyawan Yayasan Wahyu Bhakti, sebuah penerbitan majalah pendidikan, dan tinggal di Depok Tengah, Bogor.

Masih ada sederet lagi, yaitu Aku Ingin Jadi Pilot karya Ir. Irzan Ishak, arsitek yang juga seniman. Juga, lagu Indah Alam Negri Kita karya Soegiarto dari Jepara, Jateng. Disusul Panorama Pantai Pangandaran karya Ate Mamat, karyawan optik yang lahir di Garut. Kemudian muncullah Zamrud Khatulistiwa karya Djoko Trielastyono AS, seorang wiraswastawan dari Banjarnegara, Jateng.

Melihat isi ke-16 lagu ini, terasa inilah lagu anak-anak, bukan lagu “kekanak-kanakan” yang diharapkan bisa menjadi penghibur orangtua yang risau akan lagu anak-anak selama itu. Karena itu, ada baiknya, saat anak-anak menikmati acara ini, orangtua menyertai putra-putrinya.

Atas lagu-lagu itu, memang tidak ada yang berani memastikan, apakah lagu-lagu itu, waktu itu akan sepopuler lagu anak-anak zaman dulu. Meski demikian, hadirnya 16 lagu anak-anak Indonesia ini bisa dianggap torehan tinta emas yang menyambung kehidupan lagu anak-anak yang sempat mengalami “kematian”. Paling tidak lagu-lagu itu, waktu itu diharapkan bisa menjadi jembatan penghubung lagu-lagu abadi zaman Pak Dal, Ibu Soed, Pak Kasur, dengan lagu anak-anak masa 1990-an, yang tetap berpusat pada anak-anak.

“Nah, begitu dong…”

Dok. Kompas, 27 Februari 1994, dengan sedikit perubahan. (Beby Siahaya)

loading...

Balasan