Home Internasional Marak Konten Hoax, Memperburuk Citra FB

SN Jakarta – Ditengah kian menjamurnya berita bohong (hoax) di Facebook (FB), WhatsApp (WA) berpotensi menggantikannya sebagai sumber berita. Tanda-tanda ini setidaknya sudah muncul di beberapa negara.

Menurut studi yang dilakukan oleh Reuters Institute for the Study of Journalism, saat ini makin banyak orang yang mengandalkan WhatsApp untuk mencari berita, alih-alih mengandalkan layanan perusahaan induknya, Facebook.

Studi yang dilakukan Selasa (27/6/2017), dilakukan terhadap 71.805 responden dari 36 negara. Sebanyak 47 persen responden masih menjawab media sosial sebagai sumber berita bagi mereka.

Namun yang patut dicermati, persentase orang yang menggunakan Facebook untuk mencari berita kini menurun lebih dari setengahnya di 36 negara tersebut, dibandingkan tahun lalu.

Dari 47 persen responden yang mengandalkan media sosial untuk mencari berita, sebanyak 15 persen responden mengatakan mereka mengandalkan WhatsApp untuk mendapat isu-isu terkini.

Jumlah tersebut kedengarannya memang kecil, namun jika dibagi lagi per negara, angkanya jadi terlihat besar.

Sebanyak 51 persen responden di Malaysia dan 46 persen responden di Brasil mengatakan mereka menggunakan WhatsApp untuk mencari berita-berita terbaru.

Pun demikian dengan responden di Chili (39 persen), Singapura (38 persen), dan Hong Kong (36 persen).

Beberapa faktor yang dianggap mendorong tren pencarian berita dari WhatsApp adalah, beberapa operator seluler di negara-negara tersebut menggratiskan paket data untuk layanan WhatsApp.

Selain itu, enkripsi end-to-end yang dimiliki WhatsApp juga dianggap mendukung, sebab di negara seperti Turki dan Hong Kong, sangat sensitif untuk menyuarakan kritik terhadap pemerintah.‎

Citra Facebook sendiri kini terpuruk sejak banyak beredar berita-berita bohong (hoax), walau berbagai upaya telah diambil oleh Facebook untuk memeranginya.‎ (Beb HS)

loading...

Balasan