Home Hukum & kriminal Tak Takut Diintervensi, TNGGP Tetap Lanjutkan Proses Hukum Kasus Cacing Sonari

SN Jakarta – Kawasan taman nasional merupakan benteng penjaga keanekaragaman hayati Indonesia, sehingga tiap pihak yang melakukan perusakan terhadap kawasan ini, baik secara sengaja maupun tidak sengaja, sudah melakukan tindakan yang bertentangan dengan hukum.

Plt Kepala Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Adison mengaku heran dengan banyak pejabat daerah hingga DPR membela pencuri cacing sonari. Padahal ketusakan hutan yang disebabkan oleh pelaku pencurian sangat merugikan negara. Karena bukan saja pohonnya yang hancur, tapi ekosistem kawasan hutan jadi berantakan.

“Kami heran atas pelapor yg melaporkan adanya kerusakan di TNGGP ke Gakum, setelah di tangkapnya tersangka kok si pelapor malah membela si perusak hutan, bahkan si pelapor mengatasnamakan peduli lingkungan, ada apa ini?,” tanya Edison kepada Wartawan dalam pernyataan tertulisnya, Jumat (7/7/2017)

Menurutnya, dari dasar hukum sudah jelas hal itu telah melanggar undang undang dan yang lebih heran di pengadilan para pencari  muka ini penasaran dan masihmembela mati matian terhadap terdakwa. “Bahkan lebih kejam lagi sudah memfitnah terhadap TNGGP, kalo personil kami terlibat dalam usaha cacing. Bila saja terdakwa terbukti bersalah nanti, kami akan minta pertanggung jawaban hukum sipelapor karena sdh memutarbalikan fakta” ujarnya.

Dia juga memgalu heran dengan banyak berita mengenai penangkapan terdakwa di media online maupun media tv, banyak orang yang tidak mengerti masalahnya ikut membela pelaku.

“Maka untuk itu perlu adanya pelurusan berbagai berita miring tersebut. karena saat ini sedang berlangsung persidangan terdakwa. Dan didin si pencuri cacing, secara sporadis telah merusak hutan dan dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat dimana didin sebagai pengepul dan penjual cacing hasil pencurian tersebut kepada berbagai cukong untuk di eksport ke china dan jepang,” ungkapnya.

Menurutnya, kini persidangan sudah memasuki pemeriksaan saksi saksi dan dalam minggu ini akan dilakukan penuntutan terhadap pelaku. Namun kata Adison, sebelum sampai pada pemeriksaan saksi pihak pembela melakukan epsepsi. Tetapi ditolak halim, sehingga pada akhirnya majelis hakim pengadilan Cianjur memutuskan putusan sela dan terus dilanjutkan karena hakim berkeyakinan atas alat bukti yg ada di persidangan.

“Kami sebagai pemangku wilayah tidak henti hentinya akan nencari didin didin yang lain sampai kawasan konservasi Taman Gunung Gede Pangrango terbebas dari pencurian cacing dengancara merusak lahan konservasi. Siapa pun di belakang atau beking sipencuri tetap akan kami lawan,” tandasnya.

Seperti di ketahui, beberapa waktu lalu, Tim Gabungan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dan Direktorat Jenderal Penegakan Hukum LHK, melakukan penangkapan terhadap sekelompok orang yang dengan sengaja berburu cacing sonari/kalung, yang berada dalam kawasan zona inti TNGGP. Zona inti, merupakan zona yang tidak dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, dan untuk memasuki zona ini, harus memiliki izin dan alasan yang jelas, serta persetujuan Balai Taman Nasional.

Pelaku yang datang secara berkelompok ini, telah melakukan perburuan cacing kalung di TNGGP, dimana dalam perburuannya, dilakukan penebangan pohon dalam jumlah yang cukup banyak. Pohon-pohon tersebut digunakan untuk membuat saung/gubug dan tempat menggarang (mengeringkan) cacing.

Para pelaku juga membuat parit-parit dengan cangkul pada daerah cekungan tanah, yang memiliki lapisan humus subur dan tebal, dimana terdapat cacing kalung dalam jumlah banyak, dan berukuran besar, atau dalam istilah pasar dikatakan, cacing yang “berkualitas super”. Berdasarkan hasil investigasi Balai Besar TNGGP, para pelaku berjumlah tujuh sampai delapan kelompok, dimana tiap kelompok terdiri dari lima sampai enam orang.

Lokasi pengambilan cacing yang dilakukan secara berpindah-pindah (nomaden), pada lereng-lereng punggungan pendakian Geger Bentang-Cimisblung-Puncak Pangrango ini, telah merusak kawasan TNGGP seluas 3 Hektar.

Secara hukum, kelompok ini telah melakukan pelanggaran terhadap Pasal 33 Ayat 3 Undang-undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), yang menyatakan bahwa, “Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsi zona pemanfaatan dan zona lain dari taman nasional, taman hutan raya dan taman wisata alam”, dan Pasal 12 huruf C, Undang-undang RI Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.

Tanpa memiliki niat untuk mengkriminalisasi para pelaku, Balai Besar TNGGP mempidanakan para pelaku, sesuai dengan perundang-undangan yang ada. Hal ini diharapkan dapat memberikan efek jera, dan mencegah terjadinya kejahatan dan kerusakan ekosistem taman nasional, yang merupakan benteng terakhir kawasan hutan di kemudian hari.

Hal yang terpenting dari penegakan hukum ini adalah menindak tegas para pelaku yang telah memasuki kawasan secara illegal, serta merusak dan mengganggu ekosistem kawasan. Tak ada jaminan sebuah kawasan berlabel konservasi sekalipun lepas dari ancaman keTak ada jaminan sebuah kawasan berlabel konservasi sekalipun lepas dari ancaman kerusakan. Seperti yang baru saja terungkap soal rusaknya hutan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).

Penyebabnya adalah cacing sonari. Sejenis cacing kalung ini sedang ramai – ramainya dicari karena nilainya yang fantastis rusakan. Seperti yang baru saja terungkap soal rusaknya hutan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Penyebabnya adalah cacing sonari. Sejenis cacing kalung ini sedang ramai – ramainya dicari karena nilainya yang fantastis.

Bahkan seorang pedagang asongan, Didin (48), terancam hukuman 10 tahun penjara setelah kedapatan mengambil cacing sonari di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Pihak TNGGP menyatakan warga Kampung Rarahan, Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas itu melanggar aturan perundang-undangan karena pengambilan cacing telah menyebabkan kerusakan di dalam zona inti dan zona rimba kawasan TNGGP.

“Permasalahan diperkirakan dimulai sekitar September 2016. Saat itu, salah satu kabid kita melaporkan ada perusakan hutan kawasan zona inti di ketinggian 2.500 mdpl,” ujar Adison.

Untuk mencapai ke lokasi tersebut, ujar Adison, para pencari cacing menempuh perjalanan kurang lebih 8 jam. Padahal, untuk pendaki pemula untuk ke lokasi tersebut membutuhkan waktu hingga 15 jam. “Biasanya mereka menginap 3-4 hari. Tetapi, ketika kita berpatroli lagi mereka sudah tidak di lokasi. Melihat kerusakannya mustahil dilakukan hanya satu orang saja,” tuturnya.

Dalam memburu cacing ini, ucap Adison, pencari cacing menggali tanah dan menebang pohon. Setidaknya terdapat lima titik di zona inti dan zona rimba TNGGP rusak akibat penebangan itu. “Luasnya jadi sekitar 20 hektare dengan ketinggian berbeda-beda,” tuturnya

Seperti diketahui, TNGGP yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi tahun 1980, menempati posisi penting antara lain sebagai hulu DAS Citarum, Ciliwung, Cisadane, dan Cimandiri. Sehingga kawasan TNGGP menjadi tumpuan lebih dari 30 juta penduduk di wilayah Jawa Barat dan DKI Jakarta sebagai penyuplai air bersih.

Menurut data dari TNGGP, di tahun 1970 UNESCO telah menetapkan kawasan dengan luas 24.270 hektar ini sebagai salah satu cagar biosfer di Indonesia. Di kawasan tersebut juga terdapat 6 zonasi yang salah satunya adalah zona tradisional yang memberikan ruang pemanfaatan bagi masyarakat sekitar kawasan.

Adison mengatakan, kasus perburuan cacing sonari di kawasan hutan TNGGP telah menyebabkan kerusakan hutan hingga mencapai 20 hektar di zona inti dan zona rimba. Dirinya mengaku butuh waktu sekitar 6 bulan pihaknya mengungkap kasus kerusakan hutan akibat pencarian cacing sondari di zona inti tersebut. Pihak TNGGP menduga 1800 – 2300 pohon ditebang dengan bekas galian tanah sehingga berpengaruh besar terhadap kondisi lingkungan.

“Kami menemukan oknum yang bertugas sebagai penadah cacing. Dari keterangan pelaku, kami menduga kasus cacing sonari ini dilakukan oleh kelompok sindikat dengan jumlah 10 sampai 60 orang dengan menggunakan alat khusus,” kata Adison.

Karena harga cacing di pasaran sangat pantastis, bila dijual dalam bentuk basah–cacing tersebut dihargai Rp50.000 per iket. Sementara jika dalam keadaan dikeringkan harganya bisa menembus angka Rp5 juta per kilogram. Oleh karena itu, banyak dari pelaku yang membawa perbekalan banyak lengkap dengan alat yang memadai.

“Cacing somari besar, seukuran belut. Cacing ini termasuk cacing unik karena hanya bisa hidup di ketinggian tertentu. Jika malam hari cacing sonari bisa mengeluarkan suara seperti sonar,” paparnya.

Menurut Adison, cacing sonari juga memiliki banyak khasiat diantaranya dijadikan obat untuk types, meningkatkan vitalitas dan bahan kosmetik. Selain itu, cacing sonari disinyalir sebagai pakan pembesaran trenggiling. “Karena sudah ada pembesaran trenggiling. Trenggiling dijadikan bahan untuk narkoba,” ucapnya.

Dia mengatakan kasus ini telah dilaporkan ke pihak kepolisian dengan tuduhan perusakan lingkungan, pembalakan, serta perburuan dan perambahan. Aksi pelaku dinilai melanggar Pasal 78 ayat 5 dan atau ayat 12 Jo Pasal 50 ayat 3 huruf e dan atau huruf m Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dengan hukuman 10 tahun penjara. (***)

loading...

Balasan