Home Ekonomi Indonesia Industrial Club Gelar Diskusi Bertajuk “Ngobrol Kopi Santai’ Terhadap Kondisi...

SIARANNEWS – JAKARTA – Indonesia Industrial Club menggelar diskusi bertajuk ‘Ngobrol Kopi Santai’ dalam merespon Keterpurukan kondisi ekonomi/industri nasional saat ini, di kantor sekretariat ISTMI (Ikatan Sarjana Teknik Industri dan Manajemen Industri Indonesia) di Tulodong Atas No.14 Jakarta Selatan, Minggu (22/7)
1arm800x450-400x225
Bertindak sebagai moderator dalam diskusi tersebut, Andre Mulpyana, MSIE yang juga selaku Sekretaris Jenderal ISTMI, dan pembicara-pembicara-pembicara : Ir. Faizal Safa, M.Sc., IPU., AER.  selaku ketua Umum ISTMI, Faisal Basri selaku Pakar Ekonom, Ir. Mathiyas Thaib, MEB., IPU. selaku Dewan Pakar BKTI – PII, DR. Ir. H. Marzuki Usman, MA selaku ketua ISEI serta Roosdinal Salim Phd. selaku Ketua Komptap KADIN Bidang LHK.

Faizal Safa mengatakan bahwa tujuan diskusi ini diharapkan dapat memicu semangat membangun industri di Indonesia dengan melibatkan berbagai pelaku pengusaha nasional yang nantinya diharapkan mampu memberikan tambahan dorongan kemandirian industeri, manufaktur yang terbaik untuk kemajuan perekonomian di Indonesia.
Pokok pembahasan dalam ‘ngobrol kopi santai’ tersebut menekankan pada Tantangan Industri saat ini yang kurang penekanan terhadap Efisiensi dan Inovasi. Dibeberapa Industeri di Indonesia memerlukan banyak inovasi di aspek industeri hilirnya guna membuat industeri tersebut lebih memiliki utilisasi yang optimal, efisiensi sehingga mencapai hasil yang optimal.

Selain itu perlu juga dilakukan usaha-usaha perbaikan struktur pasar di semua lini industeri dengan lebih baik, sehingga proses pembentukan hargapun akan lebih stabil, fair dan sesuai antara supply and demand.

Tantangan dalam industeri kita yang lain adalah dari sisi distribusi. Ketergantungan industri terhadap Insfrastruktur Transportasi, logistic dan sumber daya energi menjadi sangat tinggi, sehingga diperlukan juga suatu Roadmap Industrialisasi yang komprehensif dan terpadu (integrated).

Dalam diskusi ” Ngobrol Santai Ngupy Bareng” tersebut Faisal Basri ekonom senior mengatakan Mata uang kuta makin terpuruk, dikarenakan industri indonesia melemah, dan pelemahan Rupiah tak hanya akibat faktor eksternal perekonomian global. Pelemahan mata uang Garuda juga karena industri nasional yang lemah.
1asn-800x507-400x254
Hal ini, dikatakan Faisal, karena banyak perusahaan asing yang tak lagi masuk ke industri manufaktur dalam negeri berbasis ekspor. Ini yang kemudian menyebabkan repatriasi profit perusahaan asing menjadi sangat besar.

“Repatriasi profit perusahaan asing luar biasa besar berdasarkan data Bank Indonesia (BI). Current account deficit kita USD 17 miliar, barang masih surplus USD 27 miliar, tapi defisit repatriasi dan bayar bunga itu USD 33 miliar karena asing yang di Indonesia itu tidak lagi di industri manufaktur yang berorientasi ekspor. Jadi melemahnya Rupiah ya karena industrinya semakin melemah,”

Industri yang berorientasi ekspor saat ini yang masih dapat dikembangkan adalah industri otomotif, baik mobil ataupun sepeda motor.

“Pertumbuhan sepeda motor Januari hingga Mei ini 250 unit. Yang biasanya pertumbuhannya minus selama tiga tahun berturut-turut, tapi ini tumbuh 13,1 persen. Ini kan bisa jadi contoh untuk yang lain,”.

Industri mobil kini tumbuh sebesar 3 persen. Naik dibanding tahun lalu di kisaran 2 % – 3%.

“Januari-Juni industri mobil kita keseluruhan naik tiga koma sekian persen, sedikit lebih tinggi dari tahun lalu yang baru 2% – 3 %,” tegasnya (ijal)

loading...

Balasan