Home Internasional Sisa Sejarah Maroko di Indonesia

SIARANNEWS  – JAKARTA – Maroko negara yang terletak di pinggir pantai Mediterania mengingatkan kita pada kisah seorang pengelana tersohor dunia Ibnu Batutah yang hidup pada periode abad pertengahan. Ibnu Batutah lahir pada 24 Februari 1304 dan meninggal diusia 65 tahun di Marinid, Maroko. Bukti untuk menguatkan hubungan antara Maroko dan Indonesia terlihat pada ukiran kayu berwarna-warni yang ditemukan di atap beberapa masjid di Maroko dan gedung-gedung lama atau warisan sejarah di Indonesia seperti Masjid Sunan Gunung Jati di Cirebon dan Masjid Said Naum di Jakarta.

Hubungan erat antara Maroko dan Indonesia sebenarnya berawal dari kunjungan Batuta ke Tanah Rencong, Aceh pada tahun 1345. Batuta bertemu Sultan Al-Malik Al-Zahir Jamal-ad-Din dari Pasai, dan menulis dalam buku hariannya, bahwa pulau Sumatera kaya dengan kapur barus, pinang, cengkeh, dan timah. Ibnu Batuta tinggal di sebuah rumah kayu di Kesultanan Pasai selama dua minggu sebelum melanjutkan perjalanannya ke Cina, membuat persinggahan di Malaka selama beberapa hari, serta menggunakan salah satu kapal layar milik Sultan Pasai, yang juga menyediakan semua peralatan yang diperlukan untuk penjelajah dari Maroko ini.

Banyak yang mengatakan bahwa Maroko jauh dari modernitas, namun pernyataan tersebut tak selalu benar adanya. Melalui sistem yang terbuka negara yang terletak di benua Afrika ini telah menghasilkan populasi kosmopolitan sebesar 34 juta yang berasal dari seluruh dunia, dan menjadikan rumah mereka di negara tersebut.  Suku Berber yang sangat keras tinggal di Gurun Sahara, yang terletak di bagian barat negara itu, adalah penduduk asli Maroko. Ada enam bahasa utama yang digunakan di Maroko – Arab, Berber, Maroko Arab, Hassaniya Arab, dan Perancis, yang merupakan peninggalan kolonialisme. Hampir semua lapisan masyarakat disana dapat berkomunikasi dengan ke enam bahasa ini

Foto : Monty/suasana Pengurus Asprindo di kedubes Maroko Jakarta

Foto : Monty/suasana Pengurus Asprindo di kedubes Maroko Jakarta

Jumat (27/7/2018) pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo) dijamu oleh Duta Besar Kerajaan Maroko, Oubadillah, di kantornya yang berada di kawasan Kuningan, Jaksel.

Oubadillah sendiri diketahui menduduki jabatannya sejak 11 November 2016. Meski banyak tantangan, pria  berusia 58 tahun ini berusaha untuk membangun hubungan bilateral yang harmonis dengan Indonesia.

Adapun jalinan komunikasi awal telah terbangun antara Oubadillah dengan Ketua Umum DPP Asprindo beserta sejumlah pengurus pusat lainnya guna membahas kerjasama lanjutan dalam beberapa komoditi yang dianggap menguntungkan untuk dikelola bersama. (Monty/team Humas)

loading...

Balasan