Home Hukum & kriminal Tanah 1800 M2 Hilang Usai Disuruh Cap Jempol dan Diberi 1juta

Foto : Montana / Suasana Saat Ahli Waris mengadu ke Komnas HAM didampingi Wempy (Kuasa Ahli Waris)

SN JAKARTA  – ‎Tanah pribadi milik satu keluarga di Ciputat, Kota Tangerang Selatan berpindah tangan usai salah seorang dari mereka disuruh memberikan tanda cap jempol dan diberi mahar sebesar Rp 1 juta oleh oknum pejabat setempat, karenanya pada Rabu (1/8) sekeluarga yang mengaku menjadi korban praktik manipulasi penjualan tanah tersebut mengadukan nasibnya ke markas Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Rabu (1/8/2018).

Para korban praktik manipulasi penjualan tanah yang diwakili dua orang ibu dan 1 anak ini melaporkan kasus yang menimpa mereka yang diduga dilakukan oleh oknum pengurus RW hingga pejabat tingkat Kelurahan di wilayah mereka berdomisili.

Foto Dokumen :Surat Keterangan Dari Kecamatan, Kelurahan tentang Tanah Girik C no.138 seluas +- 1850 m2, dokumen siarannews.com

Foto Dokumen :Surat Keterangan Dari Kecamatan, Kelurahan tentang Tanah Girik C no.138 seluas +- 1850 m2, dokumen siarannews.com

Kasus praktek manipulasi penjualan tanah Girik C dengan No.138 Persil A.1/27 seluas 1850 m2 pun menjadi ramai diperbincangkan oleh warga yang bermukim di Kelurahan Serua, Ciputat‎, Tangsel. Pasalnya tanpa diketahui asal-usulnya tiba-tiba PT Cinere Serpong Jaya (CSJ) kini sudah menguasai lahan tersebut diatas. Lahan seluas  1850 m2 ini lantas digunakan untuk kepentingan pembuatan jalan tol Serpong- Cinere. PT CSJ diketahui merupakan anak perusahaan PT Jasa Marga (Persero) Tbk.

Foto dokumen surat keterangan Ahli Waris Djoekeng Ayan, dokumen siarannewa.com

Foto dokumen surat keterangan Ahli Waris Djoekeng Ayan, dokumen siarannews.com

Kasus ini bermula saat Almarhum (alm) Djokeng Ayan yang memiliki tiga orang anak yang masih hidup‎, yakni, Arsa, Rohani dan Talip. Alm Djokeng diketahui meninggalkan harta berupa sebidang tanah sawah seluas 1850 m2, Girik C yang berada di Kampung Dukuh, Kelurahan Serua, Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan.

‎Kuasa keluarga korban, Wempy D Siahaya menegaskan bahwa telah terjadi dugaan praktik manipulasi penjualan dan penggusuran lahan atas tanah milik almarhum Djokeng Ayan.

“Dugaan melawan hak atau melanggar hukum atas tanah Girik C tersebut ‎diatas, atas nama almarhum Djokeng Ayan dilakukan oleh pihak PT Cinere Serpong Jaya,”kata Wempy kepada siarannews.com di kantor Komnas HAM, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (1/8) siang.

Wempy mengatakan, praktik manipulasi penjualan dan penggusuran lahan tersebut terjadi sekitar bulan suci Ramadan 2017 lalu.

Wempy menegaskan, hingga kini pihak keluarga atau ahli waris yang menjadi korban bahkan tidak pernah  ‎mendapatkan pembayaran oleh pihak PT CSJ.

“Sementara disisi lain, tanah tersebut yang seolah tak bertuan‎ tengah dalam proses pembangunan jalan tol (Serpong- Cinere),” katanya.

‎Selain itu menurut Wempy, kasus ini  tak lepas dari peranan Ketua‎ RW setempat bernama Nadih. Nadih bertetangga dekat dengan Talip. Talip dikatakan Wempy berhasil memperdaya Rohani saudara kandung Talip.

Foto dokumen Surat Pernyataan ahli waris Rohani bin Djoekeng Ayan, Dokumen Siarannews.com

Foto dokumen Surat Pernyataan ahli waris Rohani bin Djoekeng Ayan, Dokumen Siarannews.com

Wempy berdasarkan kesaksian Rohani, mengatakan, Nadih memberikan uang senilai Rp 1 juta kepada Rohani yang sempat membuat wanita berusia 70 tahun ini‎ terkaget-kaget. “Uang itu diberikan di kediaman oknum ketua RW 01,” tambah Wempy sambil meperlihatkan dokumen dokumen yang diserahkan ke Komnasham tersebut.

“Rohani lantas mengembalikan uang ‎tersebut, sebab ketika ditanya oleh Rohani uang pemberian Nadih itu untuk apa, Nadih tidak bersedia menjelaskannya,” ungkap Wempy .

“Ini uang amal dari saya untuk keperluan Idul Fitri,” kata Wempy menirukan ucapan Nadih kepada Rohani bin Djokeng Ayan.

Usai memberikan uang tersebut, Nadih ‎lantas menyodorkan kertas surat guna dimintakan cap jempol dari Rohani. “Rohani saat itu mengaku tidak tahu isi dan maksud dari surat tersebut dikarenakan dirinya tidak bisa membaca dan menulis,” jelas Wempy.

Dalam hal ini Nadih tidak sendirian, Nadih ditemani oleh seorang pria bernama Nanda‎. Nanda berdasarkan informasi merupakan seorang makelar (calo) tanah.

Foto : Montana / Ahliwaris Djoekeng Ayan Setelah Mengadu Ke Komnasham membentangkan spanduk.

Foto : Montana / Ahliwaris Djoekeng Ayan Setelah Mengadu Ke Komnas HAM membentangkan spanduk.

“Dikhawatirkan cap jempol Rohani diatas kertas tersebutlah yang sudah disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu dalam transaksi jual beli tanah yang dimaksud tanpa sepengetahuan dari ahli waris almarhum Djokeng Ayan,” pungkas Wempy. (Montana)

loading...

Balasan