Home Bisnis Ini Manfaat Teknologi Blockchain Pada Sektor Pertanian

SIARANNEWS –  JAKARTA – Teknologi Blockchain saat ini tengah terfokus pada sektor pertanian sehingga dapat dimanfaatkan untuk menghubungkan antara petani dengan perbankan untuk memperoleh pendanaan bagi para petani.

Saat ini teknologi Blockchain masih dianggap awam oleh masyarakat. Tak hanya itu, terkait manfaat dan kerugiannya pun belum banyak yang belum mengetahuinya. Melalui teknologi Blockchain, HARA merangkum data terkait usaha petani yang menjadi mitranya. Data tersebut bisa dalam bentuk apapun yang berkaitan dengan usaha pertaniannya.

Kemudian, data itu dimanfaatkan untuk membantu mereka memperoleh kredit. Menggunakan data yang dirangkum oleh HARA, perbankan juga bisa mengukur risiko dan menentukan besaran bunga pinjaman yang akan diperoleh petani.

Menurut pendiri dan CEO HARA, Regi Wahyu, saat ini ada sekitar tiga ribu petani di Jawa Timur yang ada dalam ekosistem data exchange HARA. “Sebanyak 200 petani di antaranya di Situbondo sudah dapat terakses perbankan, melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR),” ujar Regi di Jakarta Selatan, Kamis (16/8/2018).

Menurut dia, menjelaskan manfaat Blockchain ke petani di Indonesia cukup sulit. Sebab, banyak petani yang tak paham fungsi data bagi mereka. “Kami menyiasati hal itu dengan menawarkan poin yang bisa ditukarkan dengan diskon pupuk bagi petani yang mau menjual datanya ke kami,” ungkapnya.

Dia juga menceritakan bahwa teknologi Blockchain dimanfaatkan mereka dalam transaksi jual beli data antara petani atau kelompok usaha lainnya dengan pihak bank, asuransi, pemerintah, dan lainnya. Untuk data yang ditransaksikan sendiri bisa berupa identitas petani sebagai penyedia mencakup geotagging seperti luas, lokasi, kepemilikan, lahan, kultivasi seperti waktu dan jenis tanaman. Termasuk pupuk dan obat yang dipakai, ekologi seperti cuaca serta tipe tanah, hingga nilai transaksi atas penjualan hasil panen yang diperoleh petani.

Guna mengimplementasikan sistem Blockchain di sektor pertanian, HARA tak bekerja sendirian. HARA merangkul beberapa instansi seperti Bank Negara Indonesia (BNI), perusahaan penelitian pertanian, BOI Research, instansi pemerintah, dan lembaga nonprofit (NGO). Dari semua data itu, hanya nilai transaksi yang masih di-input secara manual, sesuai klaim petani.

Dengan memanfaatkan teknologi Blockchain, dimasa setelah panen, petani juga bisa mengetahui daerah-daerah mana yang membutuhkan hasil buminya. Bahkan jika sukses di pertanian, dirinya semringah Blockchain akan bisa dimanfaatkan untuk sektor lainnya.‎ (Hendry)‎

loading...

Balasan