Home Bisnis Seminar DenganTema “Status Dan Proyeksi Keuangan Nasional” di Gelar Komunitas Teknik Industri

Foto : Suasana Seminar Komunitas Teknik Industri di LPPI Kemang, Jakarta Kamis,06/09/2018 (Dokumen Siarannews.com)

SIARANNEWS – JAKARTA- Komunitas Teknik Industri menggelar seminar dengan tema “Status Dan Proyeksi Keuangan Nasional” yang di adakan di Lembaga Pengembangan Perbankkan Indonesia (LPPI) di Kemang Jakarta Selatan Kamis 6 September 2018, dengan pembicara tunggal Dr. Ir. Hartadi Sarwono Komisaris Utama Bank Mandiri yang pernah menjabat sebagai Deputy Gubernur Bank Indonesia.

Peserta seminar tahun ini masyarakat anggota perkumpulan para Insiyur Teknik industri diantaranya BKTI-PII, ISTMI, BKSTI, serta koperasi KITA dan juga Ikatan Mahasiswa Teknik Industri dari wilayah Jakarta  dan juga Turut hadir Ir. I Made Dana Tangkas M.Si, IPU selaku President elected PII BKTI dan juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum ISTMI periode 2008-2015 selain sebagai penyengara acara seminar ini beliau rencananya akan menjadi ketua umum PII BKTI di bulan Okt mendatang serta Ketua Koperasi Industri Tanah Air yang akan mengantikan Ir. Indracahya Kusumasubrata, IPU yang akan berakhir masa baktinya di KITA.

Foto : Monty/ Ir. Indracahya Kusumasubrata, IPU ketua Badan Kejuruan Teknik Induatri dan juga Ketua Koperasi Industri Tanah Air

Foto : Monty// Ir. Indracahya Kusumasubrata, IPU ketua Badan Kejuruan Teknik Industri dan juga Ketua Koperasi Industri Tanah Air

Ir. Indracahya Kusumasubrata, IPU ketua Badan Kejuruan Teknik Industri dan juga Ketua Koperasi Industri Tanah Air menjelaskan Komunitas Teknik industri yang terdiri dari 3 organisasi yaitu Badan Kejuruan Teknik Industri sub-organ Persatuan Insiyur Indonesia (PII), BKSTI (Badan Kerjasama Penyelengara Pendidikan Teknik Industri Indonesia) organisasi akademisi 200-an program pendidikan teknik industri seluruh indonesia, ISTMI (Ikatan Sarjana Teknik Industrial dan Manajemen Industri Indonesia), wadah Insinyur Teknik dan Management Industri didirikan jauh sebelum lahirnya UU keinsiyuran No 11/2014 yg saat ini di ketuai oleh Ir Faisal Safa IPU

Seminar kali ini merupakan paparan dari Dr. Ir. Hartadi Sarwono yang juga lulusan Teknik Industri ITB dan penyandang gelar master degree makroekonomi dan doktor teori moneter dan keuangan dari Oregon, Amerika Serikat.

Foto : Dr. Ir. Hartadi Sarwono sebagai Pembicara tunggal

Foto : Dr. Ir. Hartadi Sarwono sebagai Pembicara tunggal (dokumen siarannews.com)

Doktor Hartadi tadi menguraikan secara cepat terminologi dan teori pertumbuhan ekonomi sebagai alat untuk memahami situasi dan gejala ekonomi khususnya kenaikan nilai tukar dollar AS terhadap mata uang rupiah dan mata uang negara- negara lain yang saat ini sedang berlangsung.

Perekonomian di indonesia khususnya aspek keuangan saat ini sedang mengalami keadaan yang cukup krusial yaitu turunnya nilai rupiah terhadap Dollar AS.

Ini terjadi terutama akibat kebijaksanaan Trump “American First” . Kebijaksanaan ini dicerminkan dengan dukungan ke perusahaan AS antara lain dalam bentuk penurunan pajak. Dampak keputusan ini,  anggaran pemerintahannya sendiri mengalami defisit karena turunnya pemasukan dari pajak. Situasi ini diatasi pemerintah AS dengan mencari pinjaman melalui US T-Bills yang menimbulkan peningkatan arus dana ke AS Dan naiknya kurs dollar AS. Disamping itu tahun lalu the Fed tiga kali melakukan kenaikan suku bunga dan tahun ini mungkin disusul dengan yg keempat. Pembicara juga menyoroti besarnya komponen import kita baik barang maupun jasa. Untuk jasa perlu ada usaha yang dramatis untuk menekan pengeluarannya diantaranya biaya untuk transaksi yang menggunakan fasilitas kartu kredit asing. Dalam hal ini pemerintah sudah mengeluarkan GPN Gerbang Pembayaran Nasional.

Foto : Monty // Ir.Faisal Safa.IPU Ketua Umum ISTMI (dokumen Siarannews.com)

Foto : Monty // Ir.Faisal Safa.IPU Ketua Umum ISTMI (dokumen Siarannews.com)

Ditempat terpisah Ir. Faisal Safa selaku Ketua Umum ISTMI pada saat ditanyakan awak media mengapa ekonomi di indonesia semakin merosot terutama nilai tukar rupiah dengan USD sangat tinggi hingga mencapai Rp.15.000,-/1 $, Faisal mengatakan Platform Industri nasional di Indonesia fragile krn proporsi import bahan 74% dan sisanya konsumsi simetris jg dg arsitektur industri nasional kt dg struktur komposisi 80% capital , 17% labour dan 3 % R & D,Industri di Indonesia dengan bahan baku import itu harus masuk dalam prioritas tertinggi.

Perbankkan di indonesia masih mengunakan sistem pembiayaan zaman “old” bukan “millenium” itu yang menyebabkan industri baru tidak bisa berkembang beda dengan di negara luar mereka justru merangkul bahkan memberikan pinjaman atau kredit kepada insdutri baru agar berkembang dengan pesat, sementara di indonesia tidak diberikan fasilitas kredit terhadap industri yang belum memiliki contoh atau sample produksinya melainkan fasilitas kredit diberikan kepada industri yang sudah berkembang. Tutup Faisal

Foto : Foto bersama seluruh peserta seminar

Foto : Foto bersama seluruh peserta seminar (dukumen siarannews.com)

Indracahya menjelaskan kegiata seperti ini akaan diselenggarakan secara rutin. Topik berikutnya tentang “trade war”.
Kedepan hasil seminar akan dirangkum oleh institusi IIDC (Indonesian Industrial Development Center) sub-organ Yayasan Komunitas Teknik Industri
Indonesia. IIDC ini akan menjadi “think-tank” yang diisi para ahli yang mempunya kapasitas dan intergritas yang tinggi sang mau menyumbangkan pemuikirannya untuk kepentingan kemajuan Industri nasional. Sedang untuk pelaksanaan hasil pemikiran tersebut telah dibentuk Koperasi Industri Tanah Air (KITA) organisasi komersial yang diharapkan dapat membantu meningkatkan industri tanah air. Koperasi KITA diharapkan dapat menyalurkan potensi generasi muda khususnya 6000an para lulusan teknik industri pertahun sehingga mereka tidak bingung mencari pekerjaan sebagai pegawai. Mereka diarahkan menjadi wiraswata, dengan dukungan koperasi KITA. Oleh sebab itu kita bina mereka sejak mahasiswa. Mereka tergabung dalam organisasi Ikatan Mahasiswa Teknik Industri IMTI yang juga hadir dalam kegiatan Komunitas Teknik Industri seoerti acara acara seminar ini.

Kedepannya disetiap event termasuk Konvensi BKTI PII yg akan diselenggarakan tanggal 17 -18 Oktober 2018 di Kementrian Perindustrian yang akan datang mereka kita libatkan agar mereka terbiasa sejak awal dakam kegiatan yang diperlukan untuk mengembangkan bakat dan potensi mereka.

Ir.I Made Dana Tangkas M.Si, IPU selaku President elected PII BKTI (dokumen siarannews.com)

Ir.I Made Dana Tangkas M.Si, IPU selaku President elected PII BKTI (dokumen siarannews.com)

Ditempat tempat terpisah saat menaiki mobil dikonfirmasi oleh Awak media   Ir.I Made Dana Tangkas M.Si, IPU selaku President elected PII BKTI dan juga pernah menjabat sebagai Ketua Umum ISTMI periode 2008-2015 selain sebagai penyengara acara seminar mengatakan kita perlu membuat masyarakat Indonesia mengerti dan lebih cerdas memahami esensi dari makro ekonomi termasuk problematika dalam mengelola ekonomi dan industri anak negeri. Sudah saatnya persoalan hutang harus direstrukturisasi dan pengelolaan industri nasional lebih dipertajam lagi menuju industri yg berdikari dan sejahtera. Tutupnya. (Fettel)

loading...

Balasan