Home Uncategorized Kegigihan Ibu Persit, Sukses Lestarikan Budaya Menenun di Muna

SN Raha – Bagi warga Desa Masalili Kecamatan Kontunaga Kabupaten Muna Sultra, pekerjaan menenun telah menjadi kegiatan turun temurun.

Sehingga tidak mengherankan jika sampai saat ini desa tersebut menjadi sentra produksi kain tenun tradisional khas Muna karena hampir setiap rumah di Desa Masalili memproduksi kain tenun khas Muna tersebut.

Sitti Nurmin, salah seorang warga Desa Masalili mengaku dirinya mulai membantu orang tuanya sejak berumur 12 tahun.

IMG-20180920-WA0520Kata Nurmin, pada usia itu dirinya diserahi pekerjaan untuk mengkangia (memasang benang) ataupun menghani (merapatkan benang pada alat tenunan seukuran kain yg akan ditenun) karena dianggap belum bisa untuk pekerjaan menenun.

“Hal itu dikarenakan kaki saya belum sampai untuk menekan katada (pijakan tenun) kecuali kalau usia sudah mencapai 15 tahun,” ujar istri dari Kapten Inf. La Ode Halili itu dalam keterangan tertulisnya, Kamis (20/9).

Lanjutnya, dirinya mulai menenun saat berusia 15 tahun dan sejak saat itu pula dirinya fokus membantu orang tuanya untuk menenun karena pekerjaan itulah yang menjadi sumber ekonomi keluarganya.

“Sejak itupula saya menjual hasil tenunan saya kepada orang yang memesan langsung kepada saya,” terang ibu dari Sitti Rusnawati, Moh. Irjan, Sitti Rosmadewi dan La Ode Sakti Wirayudha ini.

Seiring berjalannya waktu, Wanita kelahiran Masalili 31 Desember 1965 ini berinisiatif untuk mengembangkan usahanya bersama dengan saudaranya yang bernama Wa Ode Neati.

IMG-20180920-WA0524“Bermodal semangat, saya nekad untuk bermohon ke BRI untuk perkuatan modal guna membuat tempat usaha semacam atau warung atau toko kecil,” ujarnya lagi.

Alhasil kata dia, usaha kerja sama bersama saudaranya itu berbuah positif sehingga hasil karya mereka banyak diminati orang.

“Pesanan kain datang silih berganti sehingga kami memutuskan untuk menambah karyawan sebanyak 6 orang,” tuturnya.

Kata dia, saat itu pihaknya  mengupah karyawannya berdasarkan hasil produksinya yakni  Rp.160.000 per lembar kain di luar harga benang, benang mas dan benang perak.

“Kemudian pada tahun 1987 usaha bersama itu saya serahkan kepada saudara saya (Wa Ode Neati red) berhubung pada tahun 1988 saya menikah dan harus ikut suami,” imbuhnya.

Dia juga mengatakan bahwa saat menjalankan usaha tenun itu, pihaknya pernah mengikuti beberapa even pameran baik lokal maupun nasional.

IMG-20180920-WA0514“Kami ikut pameran MTQ Kendari, pernah memamerkan perpaduan tenunan kain khas Muna dengan tenunan Lombok saat mengikuti pameran di Batam. Terakhir pada tanggal 6 september 2018 tenunan kami masuk nominasi 10 produk unggulan terbaik pada kegiatan Gebyar karya Pertiwi tahun 2018 di Jakarta,” imbuhnya.

Dia menyebutkan bahwa dalam sebulan penghasilan usaha tenun yang digelutinya itu berkisar Rp. 5.000.000 hingga Rp.10. 000.000.

“Hasil itu kami pergunakan untuk upah penenun/karyawan dan juga untuk membeli hasil tenunan/kain dari masyarakat serta membantu menambah penghasilan keluarga kami,” pungkas Pengurus Persit Kodim Muna itu. (Enel-Sultra)

loading...

Balasan