Home Opini Memenangkan Ekonomi Ummat

Foto : Penulis Amir Faisal (dokument siarannews.com)

SIARANNEWS JAKARTA – Ummat Islam jangan semuanya terpancing berfokus ke politik tetapi perlu menconvert perjuangan politik ke ekonomi.

Meskipun jalannya cukup panjang, berliku dan banyak rintangannya. Mengingat ekonomi dunia dan Indonesia sudah dikuasai oleh non Muslim, selain kita sendiri tidak kompak, dan suka dipecahbelah.

Namun bukan berarti kita tidak mungkin berhasil. Pertolongan Allah akan diberikan pada orang Mukmin jika kita bersabar dan tetap menjalin ukhuwah, bersilaturahim serta saling menghargai dan berprasangka positip terhadap strategi bisnis masing-masing.

Di sela-sela menjadi Narasumber Seminar UMKM di Surabaya, saya berdiskusi dengan sosok inspiratif, Dr Miftachul Huda, Business Coach mantan CEO Jawa Pos Group. Kita berkesimpulan, jika kita keberatan terhadap strategi bisnis yang dilakukan oleh sesama muslim, hendaknya :

Berikan dasar fiqhnya, serta pastikan tidak ada khilafiyah.

Ajukan alternatif sesuai dengan parameter bisnis menyangkut produksi, distribusi dan marketing.

Apresiasilah perbedaan pilihan strategi bisnis masing-masing. Karena dalam bisnis (berbeda dengan ideologi politik) masih banyak constrain yang khilafiyah. Padahal Ijma’ Ulama untuk itu masih sangat terbatas.

Saya juga tidak tertarik untuk berpolemik tentang hal itu. Tetapi saya mengajak Anda belajar tentang strategi bisnis melawan institusi bisnis raksasa.

Ada baiknya kita ikuti strategi Tzun Su dalam perang bisnis, khususnya dalam hal mengukur kekuatan lawan maupun kekuatan kita, serta taktik yang harus diambil

Strategi No 10 dan 11 dari 36 Strategi Tzun Su :
Strategi 10 : Pisau tersarung dalam senyum. Puji dan jilat musuh Anda. Ketika anda mendapat kepercayaan darinya, Anda bergerak melawannya secara rahasia.

Strategi 11 Pohon prem berkorban untuk pohon persik. (Mengorbankan perak untuk mempertahankan emas.) Ada suatu keadaan dimana anda harus mengorbankan tujuan jangka pendek untuk mendapatkan tujuan jangka panjang.

Beberapa institusi dan organisasi Islam pernah mengajukan ke BI dan OJK, krn mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam, agar di Indonesia diciptakan BI Syariah.

Tetapi Proposal itu belum dapat diterima karena coverage nasabah Bank Syariah waktu itu baru sekitar 6 persen ( Malaysia sudah diatas 50 persen). Hal ini tentunya juga tergantung Ummat Islam sendiri, maukah menjadi nasabah Bank Syariah? (ingat, yang dipermasalahkan oleh OJK bukan besarnya perputaran uang, ttp jumlah nasabahnya).

Sehingga jihad untuk memenangkan ekonomi Ummat, jalannya ada 2 macam :
Bersifat konfrontatif dengan pihak lawan Berkolaborasi dengan lawan.
(Dalam merebut kemerdekaan RI juga melalui perang dan diplomasi )

Pilihan no 1sudah jelas. Sedangkan pilihan no 2, kenapa kita harus berkolaborasi dengan lawan? Disebabkan sistem keuangan yang merupakan pilar utama bisnis belum bisa kita miliki. Selain itu kita belum punya institusi bisnis yang kuat yang bisa mencover produksi, distribusi dan marketing (termasuk market place) Untuk itu diperlukan edukasi atau tarbiyyah pada Ummat, dengan tujuan untuk :
Memperbanyak nasabah Bank Syariah agar Indonesia punya BI Syariah Membangun keberpihakan untuk membeli produk atau dagangan milik orang Islam.

Jika lembaga keuangan syariah sudah kita miliki, dan pasar sudah kita kuasai, maka Insya Allah bisnis yang benar-benar sesuai dengan Syariah dan Mardhotilah akan kita raih.

Tetapi kalau kita tidak solid dan tidak saling mempercayai, maka itu hanya akan menjadi impian belaka.

Dalam ekonomi milenial yang menggunakan market place dan e-Commerce, dimana pasar sudah bersifat On Demand. Semisal dalam permintaan yang sangat besar dan luas, maka hanya produk yang sudah branded lah yang akan dipilih saat itu. Sehingga tidak ada peluang lagi untuk melakukan keberpihakan pada usaha milik umat.

Cepat atau lambat, itu akan terjadi.

Pertanyaannya, sudahkan itu Anda persiapkan?

Penulis : Amir Faisal
Editor : Monty

loading...

Balasan