Home Ekonomi PERUBAHAN KELANGSUNGAN HIDUP INDUSTRI PASCA PANDEMIC COVID 19

SN Jakarta : Situasi Pandemi COVID 19 bukan hanya mengubah kehidupan sehari-hari kita namun juga mendorong perubahan dunia industri, bisnis dan perilaku ekonomi serta rantai pasokan. Upaya mengkarantina  sebagai konsekuensi pembatasan penyebaran penyakit tersebut, juga menciptakan dampak ekonomi negatif baik dari masalah manufaktur, maupun penurunan bisnis di sektor jasa. Bahkan pandemi tersebut mengakibatkan resesi global terbesar dalam sejarah, karena lebih dari sepertiga populasi global saat ini dikunci (lockdown).

Tentunya Pemerintah dan Pebisnis harus mencari keunikan peluang untuk memulihkan keadaan usahanya tersebut. Pemulihan yang tidak hanya menyediakan pendapatan dan pekerjaan, tetapi juga memiliki tujuan yang lebih luas, mengintegrasikan perilaku dan tindakan keanekaragaman hayati yang baru dan kuat, dan membangun bisnis industri dan ketahanan ekonomi.

Menyikapi kondisi yang sulit diprediksi (unpredictable) tersebut, Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ikatan Sarjana Teknik Industri dan Manajemen Industri Indonesia (ISTMI) dan Indonesia Industrial Club menggelar Web Seminar (Webinar) bertajuk “Industrial Survival During and After Covid-19”

Acara yang dimoderatori Andre Mulpyana, MSIE, yang merupakan Sekjend ISTMI tersebut, berlangsung pada kamis (28/5) selama kurang lebih 3 jam, dengan dihadiri kurang lebih 230 audiensi.

Kata sambutan webinar disampaikan oleh Ir. Faisal Safa, M.Sc., IPU selaku tuan rumah dan penyelenggara acara webinar sedangkan Prakata (Open Remark) disampaikan oleh Dr. Ir. Heru Dewanto, MSc.(Eng.) IPU. selaku Presiden Persatuan Insiyur Indonesia (PII).

Sebagai Pembicara Utama dalam acara tersebut Dr. Ing. Ilham Akbar Habibie, MBA (Chief Executive, ICT National Council) dan menampilkan para panelis : Mark Lewis (Commercial Counselor Duta Besar USA untuk Indonesia), Mayra Andria (President Jordan Business Council-Indonesia), DR. Elmira Shamsiry ( Lecturer and Consultant in Asia And the Pacific, UNESCO), Ir. Eric Hermanu, MT (COO Immara Matra Indonesia), DR. Ir. Yono Reksoprodjo (kepala logistik satuan gugus tugas  penanganan bencana nasional Indonesia) dan Tan  Wijaya (CEI IBM Indonesia)

Pokok pembahasan mengacu pada situasi yang terjadi saat ini,  yaitu :

Penurunan permintaan yang didasari oleh  penurunan konsumsi energi dan penggunaan transportasi, aktivitas komersial terkait real estat, dan indikator perilaku konsumen lainnya, pemberlakuan social distancing  yang mengakibatkan  berkurangnya aktivitas komersial, penjualan di sebagian besar industri akan menurun dan menyebabkan masalah arus kas dan perjanjian utang, ditambah lagi aktivitas produksi yang terganggu oleh kurangnya pasokan perantara dan berdampak pada  jaringan produksi internasional serta rantai nilai global.

Disatu sisi kondisi pandemi memaksa beberapa perusahaan untuk memikirkan kembali model bisnis mereka.

Kekurangan pasokan dari luar negeri yang mengarah ke peningkatan pengadaan input dari bisnis lokal atau regional mengakibatkan banyak perusahaan memanfaatkan telecommuting dan e-commerce.

Masalah penyelamatan arus kas dimasa pandemi ini membuat sebagian perusahaan memangkas biaya dengan cara mengurangi kompensasi yang diberikan ke karyawan dalam waktu singkat. Bahkan untuk mengubah jalur produksi, sebagian perusahaan beralih ke  produk yang sangat dibutuhkan seperti ventilator, masker dan unit perawatan intensif.

Namun dibalik kondisi Pandemi tersebut adanya potensi peluang, pemberlakuan stay at home berpotensi mengubah perilaku pelanggan yang berpindah ke saluran online. Perubahan prilaku pelanggan menuntut ketersediaan Sistem dan Otomasi TI. Tentunya teknologi harus lebih banyak digunakan karena platform digital membantu memastikan bisnis dapat tetap berjalan tanpa kehadiran fisik di kantor atau di lokasi pabrik.

Dalam hal rantai pasokan, perusahaan harus meninjau kembali strategi yang harus diterapkan dengan mempertimbangkan pemangkasan biaya yang tidak perlu.

Kondisi COVID 19 tersebut juga merubah pola rekruitmen karyawan, menurut penelitian mesin pencari kerja Adzuna, menganalisis 4,5 juta posting AS dimana banyak pengusaha menginginkan merekrut karyawan dengan bakat yang tidak dibatasi oleh jarak geografis.

Covid 19 juga merubah sistem pembelajaran secara mendadak yang belum pernah terjadi sebelumnya. Koalisi Pendidikan Global yang diluncurkan oleh UNESCO berupaya memfasilitasi peluang pembelajaran inklusif untuk anak-anak dan remaja selama periode gangguan pendidikan. Investasi dalam pembelajaran jarak jauh tentunya harus mengurangi gangguan langsung yang disebabkan oleh COVID-19 dengan membangun pengembangan sistem pendidikan yang lebih terbuka dan fleksibel untuk masa depan. (Hefrizal)

loading...

Balasan