SN, CIANJUR – Seringnya terjadi tawuran antar pelajar di Cianjur, membuat geram Komisi 4 DPRD Kabupaten Cianjur.

Pasalnya, dari sekian kejadian, selalu menimbulkan korban, bahkan tidak jarang di antaranya, nyawa pelajar akhirnya melayang percuma.

Anggota Komisi 4 DPRD Kabupaten Cianjur, Tika Latifa, mengecam aksi sok jago ramai-ramai itu.

Karenanya, ia pun meminta agar Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Cianjur mengambil tindakan tegas kepada sekolah yang pelajarnya terlibat tawuran.

“Ini sudah keterlaluan dan tidak bisa dibiarkan..! Disdik harus tegas kepada sekolah yang tidak bisa mengatur siswanya,” kecam Tika, di RSDH Cianjur, Jumat (27/11) lalu, saat melihat langsung kondisi pelajar yang tewas akibat dilempar pecahan kaca.

Tika mengatakan, dalam catatannya, pelajar yang terlibat tawuran pun kerap berasal dari sekolah itu-itu saja.

Karena itu, tidak ada lagi alasan untuk menunda pemberian sanksi tegas kepada pihak sekolah.

Selama ini, kata dia, pihak sekolah yang pelajarnya terlibat tawuran kerap melancarkan seribu alasan yang dianggapnya sekedar betujuan meloloskan diri dari sanksi.

“Alasannya selalu itu-itu, Sekolahnya juga itu-itu saja. Kalau memang benar sudah melakukan pembinaan dan pengetatan pengawasan, minimal tawuran pelajar bisa berkurang. Ini malah terus saja ada, tawuran selalu saja ada hingga korban meninggal,” kecam dia.

Menurut politisi Fraksi Hanura itu, satu-satunya sanksi yang pantas diberikan kepada sekolah yang siswanya terlibat tawuran adalah pencabutan izin operasional sekolah.

Dengan sanksi berat itu, bisa membuat pihak sekolah berpikir dan bekerja keras mengatasi kenakalan siswa-siswanya.

“Kalau tidak begitu, tidak ada kapoknya, bekukan izin operasional sekolahnya. Titik!” tekan dia.

Sementara, Kepala Disdik Kabupaten Cianjur, Cecep Alamsyah, memastikan, bakal menerapkan sanksi berupa larangan menerima siswa baru kepada sekolah yang siswanya terlibat tawuran.

Sedangkan sanksi pencabutan izin operasional sekolah menjadi pertimbangan akhir.

Cecep mengatakan, pihaknya bersama kepolisian telah melakukan berbagai upaya untuk meredam aksi tawuran yang berbuntut maut itu.

Mulai dari sosialisasi ke tiap sekolah, hingga mengumpulkan para kepala sekolah untuk diberikan peringatan. Kendati demikian, tawuran tetap terjadi.

Maka dari itu, sanksi sekolah dilarang menerima siswa baru, kata Cecep, menjadi pilihan seusai untuk memberi efek jera pada sekolah. Rencananya, sanksi ini akan diberlakukan pada tahun ajaran baru, yakni Juni 2016.

“Kami sudah berdiskusi dengan beragam pihak dan pelarangan (menerima siswa baru, red) adalah yang paling pas. Tahun 2016 kami pastikan pelarangan ini berlaku,” ujar Cecep, Minggu (29/11).

Meski begitu, Cecep pun belum bisa memastikan berapa tahun sekolah yang menerima sanksi tidak diperbolehkan menerima siswa baru. Namun, kata dia, sanksi ini akan dicabut jika sekolah dinilai sudah mampu meredam tawuran.

“Sekolah harus bisa meredam dan menekan tawuran. Jadi sebenarnya, jangan sampai sekolah kena sanksi,” ingat dia.

Cecep setuju, tawuran yang terjadi beberapa waktu ini sudah tidak dapat ditolerir lagi.

Bahkan tawuran sudah disusupi dendam hingga berbuntut kenekadan pelajar berbuat kriminal sampai menghilangkan nyawa pelajar lainnya.

Ketua Komisi 4 DPRD Kabupaten Cianjur, Sapturo menyatakan, pemberlakuan sanksi pelarangan penerimaan siswa baru didapat dari hasil rapat Disdik dan dewan. Menurutnya, sanksi tegas perlu ditegakkan karena aksi tawuran sudah masuk dalam kategori rawan.

“Kami mendukung sanksi tegas karena ini sudah tidak bisa dibiarkan. Jangan sampai korban terlanjut kembali berjatuhan. Ini hasil keputusan bersama,” kata dia.

Kendati mendukung, Sapturo mengatakan sanksi tersebut harus menjadi jalan terakhir. Sebelum diberlakukan, Disdik harus memiliki upaya lain untuk menghentikan tawuran pelajar. Jangan sampai sekolah disalahkan sebelum Disdik berupaya maksimal.

“Bukan hanya sekolah, semua pihak pum ikut bertanggungjawab soal ini,” pungkas dia.

Dalam waktu kurang dari 2 minggu terakhir, Nanda Hoerullah (18) pelajar SMK PGRI 3 dan Cecep (17) pelajar SMK Ar-Rahmah, menjadi korban keganasan para pelajar preman.

Keduanya tewas di dua aksi berbeda. Nanda tewas Jumat (13/11/2015), saat terlibat tawuran antara SMK PGRI 3 dengan SMK 1 Cianjur. Tewasnya Nanda berbuntut aksi balas dendam yang mengakibatkan Cecep tewas pada aksi penyerangan (27/11/2015).

Cecep tewas setelah terkena lemparan pecahan kaca pada leher bagian kirinya, yang dilakukan juga oleh pelajar lainnya.

(RUH)