Home Daerah Dandim 0608 Cianjur, Minta Warga Serahkan Kepadanya Soal Terompet Alquran

PB, Cianjur – Data mencengangkan diungkap Kodim 0608 Cianjur yang mendeteteksi adanya sekitar 1.500an buah terompet yang menggunakan sampul berlafadz Alquran sebagai salah satu bahan bakunya. Hal itu didapatkan berdasarkan keterangan pelaku industri rumahan di Cianjur.

Dandim 0608 Cianjur, Letkol ARM Imam Haryadi, ditemui di Makodim di Jalan Silliwangi, Cianjur, Kamis (31/12), menyatakan, ribuan terompet tersebut kini sudah tersebar di seluruh Cianjur. Meski begitu, pihaknya hingga kini masih terus melakukan penelusuran untuk bisa mendapatkan terompet yang cukup kontroversial tersebut.

Setelah Rabu (30/12) kemarin Koramil 0807 Cikalong mengamankan total 36 terompet dimaksud, pihaknya lantas melakukan penelusuran ke berbagai lokasi dan produsennya langsung.

Alhasil, pada Rabu malam, pihaknya berhasil menemukan produsen terompet serta mengamankan puluhan terompet yang memakai sampul bertuliskan lafadz Alquran.

Berdasarkan pengakuan sang produsen terompet di Desa Limbangan Sari, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, terompet yang diproduksi olehnya tahun ini total berjumlah sekitar 1.500 buah. Sebagian besar, sudah laku terjual dan dijajakan oleh para pedagang keliling yang ada di seputaran Cianjur.

“Terompet bersampul lafadz Alquran yang berhasil kami amankan dari produsen itu tinggal sisanya saja yakni 39 buah dan sudah kami amankan. Sedangkan yang lainnya sudah terjual,” jelas Dandim.

Dandim menambahkan, sang produsen sendiri mendapatkan bahan baku barang bekas dari sisa percetakan di Jalan Jalan Pagarsih, Bandung Tengah. Adapun bahan baku tersebut dibelinya seharga Rp50 ribu sebanyak satu karung.

“Dia juga belinya sudah tiga tahun lalu. Jadi si produsen itu sendiri tidak tahu kalau ada sampul berlafadz Alquran,” jelas Imam.

Dandim menjelaskan, berdasarkan pengakuan dan hasil pemeriksaan terhadap produsen dimaksud, pihaknya sama sekali tidak menemukan adanya unsur kesengajaan. Meski begitu, pihaknya tetap melakukan pembinaan kepada sang produsen agar lebih jeli dan tidak sembarangan dalam memilih bahan baku pembuatan terompet.

“Produsen dan penjualnya tidak diamankan. Tapi tetap kami lakukan pembinaan,” kata dia.

Namun, lanjut Imam, yang paling dikhawatirkan pihaknya adalah adanya persepsi yang salah dan berlebihan dari masyarakat, baik kepada produsen maupun kepada penjual terompet itu sendiri.

“Produsen dan penjual ini kan istilahnya musiman. Tujuannya juga cuma karena alasan ekonomi. Bukan karena menjelek-jelekan atau menghina. Tidak ada itu,” beber dia.

Imam menyebut, keseharian sang produsen terompet juga hanyalah berjualan mainan anak-anak dan biasa keliling atau mangkal di sekolah-sekolah saja.

“Dia juga tidak tahu kalau itu ada lafdz Alquran. Karena memang sekilas seperti motif batik. Tapi kalau diamati secara jeli baru terlihat,” imbuh Imam.

Karena itu, Dandim mengimbau kepada masyarakat agar tidak terpancing isu-isu sesat atau provokasi dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab yang sengaja ingin membuat situasi menjadi tidak kondusif.

Ada baiknya, lanjut Dandim, bilamana ada masyarakat yang mendapati terompet serupa, agar segera melaporkan kepada pihaknya.

“Tidak usah pakai sweeping atau macam-macamnya lah. Kami yakin masyarakat juga inginnya suasana damai dan kondusif. Serahkan kepada kami dan biarkan kami yang menangani, ya,” tegas Dandim.

(RH)

loading...

Balasan