Home News Kisah Pilu Pengungsi Suriah

SN Internasional- Kisah pilu tentang pengungsi Suriah tak hanya tentang Aleppo yang membara, atau Daraya, Idlib, Madaya, dan Homs yang merana kelaparan. Jutaan warga sipil Suriah sudah menyebar melintasi batas negerinya, mencari perlindungan di negara lain. Turki, Jordan, dan Lebanon jadi tujuan utama yang menjadi pilihan para penyintas ini selain batas Eropa.

Walau sudah berada di luar bayang-bayang Suriah yang kelam, bukan berarti hidup mereka menjadi lebih baik. Seperti pilu yang tersaji di Kota Mersin, sebuah kota pelabuhan di selatan Turki. Di kota ini, Tim SOS Suriah VII Aksi Cepat Tanggap (ACT) menemukan wajah-wajah merana yang hidup sangat seadanya di tenda rombeng tak layak huni. Mereka adalah pengungsi Suriah yang datang ke Kota Mersin setelah melalui perjalanan panjang dari kota perbatasan, wilayah terdekat dengan perbatasan Suriah. Jarak 280 Kilometer dari kota perbatasan ke Mersin kemungkinan mereka lalui dengan berjalan kaki.

Seribu lima ratus jiwa, adalah hitungan kasar yang didapat Tim SOS Suriah ACT di kamp pengungsian darurat Adanalıoğlu. Mereka hidup di jajaran tenda plastik tak layak huni dalam sebuah kompleks kamp darurat. Mengapa disebut kamp darurat? Ternyata pemerintah kota setempat tak mereken warga sipil dari Suriah ini sebagai pengungsi. Mereka dibebaskan menjadi kaum urban biasa.

Sejak pertama kali mereka datang ke Mersin, hanya istilah kaum urban untuk menyebut mereka. Ada ratusan ribu warga Suriah di Mersin. Jumlah terkini yang didapat dari sumber lokal, kurang lebih ada 300 ribu pengungsi Suriah di Mersin. Sebagian kecil di antara mereka hidup merana di tenda darurat tak layak huni di kawasan Adanalıoğlu, dan tinggal di rumah-rumah sewaan–bagi yang datang dengan membawa tabungan, di Kota Mersin.

“Karena alasan itu, belum ada sama sekali bantuan yang datang ke kamp ini. Kondisi mereka di kamp Adanalıoğlu teramat menyedihkan. Kami menemukan ada 4 kamp pengungsian serupa yang tak dibantu apapun oleh lembaga kemanusiaan di sini. Selama hampir dua tahun menetap di kamp darurat ini, kebanyakan dari mereka di Adanalıoğlu mencoba menghidupi dirinya sendiri,” kisah Andhika Rahman.

Bahkan, Tim SOS Suriah ACT menemukan kenyataan lebih pilu bahwa tenda plastik rombeng yang mereka tempati harus ditebussejumlah $200 USD pada pemilik tenda untuk sekali musim panen (6 bulan). Lokasi kamp yang terpencil dan jauh dari ingar-bingar Kota Mersin menambah terkucil komunitas Suriah di kamp pengungsian Adanalıoğlu ini.

Dengan kondisi kamp plastik tak layak huni seperti ini, standar kehidupan anjlok jauh di bawah normal. Nurani tersentak begitu menilik lebih jauh kamp darurat di Adanalıoğlu. Sanitasi begitu buruk tersaji di depan mata. Aroma sisa hajat menyeruak kemana-mana. Ancaman kesehatan anak-anak pengungsi di kamp Adanalıoğlu tergadai begitu saja.

Seorang perwakilan dari mitra lokal di Mersin mengatakan, pada musim dingin beberapa bulan lalu pengungsi Suriah di Adanalıoğlu ini hanya bisa meringkuk kaku di balik selimut bertahan dingin bersama anak-anaknya. Perempuan dan anak-anak berada di balik tenda menjaga anak-anak dari dingin yang menusuk.

“Sementara laki-laki di Adanalıoğlu mencoba bertahan di musim dingin dengan menyulut kayu bakar di luar tenda, sembari duduk jongkok berhadapan. Sebagian menyeruput teh dan menyesap rokok,” ungkap Husein, mitra lokal  Tim SOS Suriah ACT di Mersin,

Untuk menyambung hidup, kebanyakan laki-laki di kamp Adanalıoğlu menjadi petani bagi para pemilik tanah di wilayah itu. Upah yang mereka dapatkan pun jauh di bawah standar hidup Mersin. “Mereka berkisah pada kami, menyambung hidup sebagai petani adalah pilihan satu-satunya. Kalau yang punya lahan adalah orang baik, biasanya mereka dapat upah lebih baik. Ada yang berkisah tuan tanahnya jahat, mereka malah diusir setelah musim panen berakhir, tanpa bayaran sama sekali,” kata Andika.

Tak ingin lebih jauh meratapi kondisi pilu di kamp Adanalıoğlu. Tim SOS Suriah ACT bergerak cepat membantu melengkapi kebutuhan dasar kurang lebih 1.500 pengungsi Suriah di kamp ini. Hari ini, Kamis (19/5) bantuan kemanusiaan berhasil menyapa ribuan pengungsi Suriah di Adanalıoğlu.

Truk berbendera Indonesia dengan kapasitas angkut 6 ton, melaju mantap dari tengah kota Mersin menuju kawasan kamp pengungsian Adanalıoğlu. Bantuan logistik yang terdistribusi bisa digunakan memenuhi kebutuhan logistik minimal selama 3 pekan ke depan.

Satu kardus bantuan logistik yang terdistribusi ke Adanalıoğlu berisi gandum 5 kilogram (kg), beras 5 kg, gula 5 kg, adas halus 2 kg, adas kasar 2 kg, minyak nabati 4 liter, minyak zaitun 2 liter, beras bulgur 5 kg, teh 1 bungkus, dan bumbu zatari 1 bungkus.

Mulai malam ini sampai berpekan ke depan, ribuan pengungsi Suriah di Adanalıoğlu setidaknya dapat menyesap lagi makna kebahagiaan paling sederhana, bersama keluarga di dalam kamp sederhana mereka. Menikmati santap malam dengan lauk dan gizi yang tercukupi.[(Act.id)

loading...

Balasan