Home Daerah FIB UNS Gelar Webinar, Penanggulangan Wabah Penyakit dalam Perspektif Naskah Kuna

Surakarta :  Grup Riset Filologi Melayu Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta telah sukses melaksanakan  webinar tentang penyakit dan wabah dalam perspektif naskah kuna.  Kegiatan tersebut terselenggara berkat kerja sama antara: Manassa – UPT Musem Kota Surakarta – Fakultas Ilmu Budaya – HISKI Komisariat Solo.  Kegiatan tersebut berlangsung secara daring pada hari Sabtu-Minggu (29-30/8/2020) melalui aplikasi Zoom Meeting dan siaran langsung kanal Youtube.

Melalui  sambungan WhatsApp  Asep Yudha Wirajaya, S.S., M.A (Sekretaris Manassa Cabang Surakarta) haap Asep S3 kepada jurnalis tujuan penyelenggara webinar akhir bulan Agustus kemarin sebagai berikut: (1) menginventarisir naskah-naskah kuna yg membahas tentang wabah dan penyakit beserta pengobatannya; (2) memberikan masukan pada segenap stakeholder bangsa ini bahwa nenek moyang kita sudah memiliki kearifan yg terkait dengan penanganan wabah dan penyakit, namun demikian penanganan wabah oleh pemerintah selama ini hanya fokus pada aspek kesehatan dan  ekonomi, tetapi melupakan/meniadakan aspek budaya. Akibatnya, penanganan yang ada hanya bersifat parsial; (3) membuka peluang kajian-kajian interdisipliner agar segera dapat ditemukan obat yang tepat

Asep Yudha Wirajaya yang sedang menyelesaikan Studi Doktoral di Kajian Budaya UNS, saat ini negara sedang dalam kondisi di ambang resesi akibat wabah yang berkepanjangan. Oleh karena itu, perlu langkah-langkah konkret agar upaya penanganan wabah dapat dilakukan secara efektif & efisien. Salah satunya membuka kembali khazanah budaya nenek moyang kita yang ternyata memiliki kearifan lokal yg terkait dengan penangan wabah/penyakit. Kamis (03/09/2020).

“Webinar dengan peserta  hampir dari seluruh propinsi di Indonesia (mulai Aceh, Padang, Palembang, Riau, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Jawa tengah, Jawa Timur, Kaltim, Kalteng, Sulsel, Sulteng, Papua, dan bahkan ada yang dari Malaysia (total hari pertama 125 orang & hari kedua 132 orang), “ jelas Asep Yuda

Webinar tersebut menghadirkan 6 pembicara utama yaitu Prof. Oman Fathurahman, Prof. Istadiyantha, Prof. Bani Sudardi, Dr. Munawar Holil, Totok Yasmiran, dan Prof. Madya Awang Azman Awang Pawi.

Prof. Madya Awang Azman Awang Pawi yang merupakan dosen di Akademi Pengajian Melayu (APM) _University of Malaya,_ Malaysia membawakan materi tentang merawat akal budi ditinjau dari perspektif Syair Ikan.

“Asas pegangan agama yang kukuh merupakan faktor utama dalam merawat akal budi masyarakat. Hal ini karena masyarakat yang mempunyai keimanan, keyakinan, dan kepercayaan terhadap kekuasaan Allah SWT akan menjadi benteng agar tidak terjerumus dengan tipu daya dunia. Berdasarkan petikan Syair Ikan, penyair menyampaikan beberapa pesan kepada masyarakat untuk merawat akal budi,” jelasnya.

Dalam Syair Ikan, penyair menyerukan kepada masyarakat untuk melakukan perubahan dalam hidup yakni mengubah perilaku negatif menjadi perilaku positif. Dalam hal ini, masyarakat perlu meninggalkan larangan Allah Swt serta melakukan perintah-Nya.

Sementara itu, pembicara kedua yakni Prof. Oman Fathurahman, Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah menyampaikan bahwa siklus wabah selalu membentuk kebudayaan baru. Hal tersebut banyak tersurat pada catatan maupun manuskrip nusantara pada masa lampau.

“Hal ini karena bangkitnya gairah keilmuan dan riset di bidang medis khususnya terkait penyakit atau wabah. Selain itu, lahir penafsiran keagamaan yang menekankan keseimbangan iman dan akal. Jadi wabah dapat melahirkan huruf, aksara, dan karya,” terang Prof. Oman.

Selanjutnya, pemateri ketiga yakni Prof. Bani Sudardi, Guru Besar FIB UNS menyampaikan materi tentang batik dan kesehatan. Ia menerangkan bahwa batik dapat mempengaruhi kesehatan manusia serta dapat pula mendatangkan bahaya. Hal tersebut dapat dilihat pada teks-teks lama yang berkaitan dengan batik.

Pembicara berikutnya yaitu Prof. Istadiyantha, Guru Besar FIB UNS membawakan materi mengenai pengobatan Islami.

“Pengobatan secara Islami merupakan praktik perawatan dan penanganan kesehatan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. yang biasa disebut _Thibbun-nabawi._ Hal tersebut didasarkan pada Al-Quran dan Hadis serta praktik kehidupan Rasulullah Saw,” jelas Prof. Istadiyantha.

Dalam Islam, terdapat banyak pedoman yang mengatur tentang kesehatan, salah satunya pada Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 168 tentang asupan makanan yang berkualitas. Selain itu juga dalam Islam dianjurkan untuk minum sambil duduk, tidak meniup makanan dan minuman, hingga menjaga kebersihan.

Sementara itu, pembicara berikutnya yaitu Totok Yasmiran dari Museum Radya Pustaka memaparkan materi tentang kondisi naskah di Museum Radya Pustaka. Totok menyampaikan bahwa saat ini pihak museum terus melakukan upaya penyelamatan bahan pustaka baik yang usianya sudah tua maupun muda. Upaya yang dilakukan antara lain mediakan naskah kuna dan buku-buku terbitan lama, kemudian dilakukan transliterasi naskah serta penerjemahan.

Materi terakhir yang disampaikan oleh Dr. Munawar Holil, dosen Faklutas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI) membahas tentang penyakit kolera dalam naskah _Wawasan Piwulang Panulak Panyakit Kolera (WPPPK)._ Dalam naskah tersebut, terdapat anjuran untuk tetap di rumah saat terjadi wabah, Dr. Munawar kemudian menyampaikan kutipan dari naskah WPPPK.

“Malah agama marentah, wajib keur ngaraksa diri, naon nu jadi malarat, ulah pisan wani-wani, lamun aya panyakit, nu sanget di hiji lembur, ulah nyaba ka dinya, ti dinya teu meunang nyingkir, cocog pisan reujeung aturan nagara. Artinya, malah agama memerintahkan wajib untuk menjaga diri, apa yang membuat sengsara, jangan sekali-kali berani, kalau ada penyakit, yang berbahaya di sebuah kampung, jangan berkunjung ke sana, dari sana tidak boleh pergi, sesuai dengan aturan negara,” terang Munawar.

Dalam naskah tersebut, terdapat banyak informasi tentang protokol penanganan kolera yang beberapa di antaranya relevan dengan Covid-19. Melalui webinar ini, diharapkan seluruh masyarakat mampu memahami bahwa pada zaman lampau banyak manuskrip yang mengkaji mengenai wabah dan penyakit. Hal ini merupakan khazanah kekayaan Nusantara yang perlu dilestarikan dan digali lagi. (Red)

loading...

Balasan