Home Bisnis Jose Rizal Ingin Produk UMKM Indonesia Kompetitif di Pasar Global

Serang, SN – Menko Perekonomian, Airlangga Hartato mengatakan bahwa pemerintah menaikkan target porsi pendanaan kredit untuk UMKM, dari rata-rata 18-20 persen saat ini menjadi 30% hingga tahun 2024 nanti.

Bahkan kata Ketua Umum DPP Partai Golkar itu mengatakan bahwa plafon Kredit Usaha Rakyat (KUR) tanpa jaminan juga dinaikkan dari 50 juta menjadi 100 juta rupiah dengan suku bunga kredit dalam kisaran 6%.

Menanggapi hal itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Bumiputera Nusantara Indonesia (Asprindo), Jose Rizal, menyambut positif terobosan tersebut.

Namun demikian, ia pesimis target itu terpenuhi jika penyaluran kredit hanya mengandalkan distribusi perbankan.

“Banyak UMKM yang unbankable. Harus dipikirkan mekanisme alternatif,” ujarnya saat ditemui pada acara pelantikan Dewan Pimpinan Wilayah Asprindo Banten, di Serang, Rabu (7/4)

“Pemerintah juga sebaiknya melibatkan organisasi semacam Asprindo sebagai organisasi dengan jaringan tersebar di seluruh Indonesia, dan mayoritas anggotanya merupakan pengusaha UMKM,” lanjutnya.

Lebih jauh Jose mengingatkan agar pengucuran kredit ini harus tepat sasaran.

“Yang menerima benar-benar UMKM. Saat ini UMKM sangat membutuhkan kredit ini agar bisa menggeliat kembali di tengah resesi ekonomi,” tegasnya.

Menurut Jose, terdapat banyak persoalan pada pengusaha UMKM yang salah satunya pada sisi penciptaan produk.

“Sebagaimana kajian dewan pakar Asprindo, titik lemah dari produk UMKM adalah sejak awal tidak didisain untuk persaingan global. Hal ini tercermin dari kontribusi UMKM terhadap total ekspor non migas yang hanya di bawah 14%. Jauh tertinggal dibandingkan Vietnam, Thailand bahkan Pilipina yang sudah diatas 25-30%. Bahkan Korea, Jepang dan China sudah mencapai 80%,” bebernya

Beberapa poin penting yang menjadi perhatian Asprindo kata dia adalah pembinaan yang dilakukan kementerian terkait yang umumnya hanya fokus pada pendampingan, sementara pengetahuan mengenai perdagangan internasional super minim.

Padahal problemnya sebut Jose adalah infrastruktur produksi, disain, kepemilikan sertifikasi internasional yang beraneka ragam, packaging dan branding, serta biaya logistik yang mencapai 24%.

“Singapore, Malaysia, Korea dan lain-lain, hanya menggunakan biaya logistik di bawah 12%. Artinya dalam struktur biaya produksi UMKM, kita sudah kalah 12% sebelum bertarung di pasar global,” ungkapnya.

Jose mencontohkan jika memperhatikan kios-kios souvernir di sepanjang Champions d’Ellise Paris, akan nampak tidak ada buatan Prancis.

“Kios souvenir didominasi oleh kerajinan dari China, Thailand, Srilanka, dan India. Tidak satu pun dari Indonesia. Tidak ada yang berfikir untuk membangun kerjasama dengan Assosiasi Souvernir Prancis dan negara-negara Eropa lainnya,” tuturnya.

Menilik fenomena tersebut pihaknya pun menggagas Kampung Industri dengan tagline “one village, one product, dan one industry” sekaligus sebagai program utama Asprindo.

Jose berharap, program tersebut dapat memberikan solusi atas problematika yang dihadapi oleh pelaku UMKM saat ini.

“Kelemahan-kelemahan yang luput dari perhatian pemerintah, kita coba upayakan untuk ditambal. Asprindo akan mencoba mengambil peran strategis dengan mengintegrasikan berbagai program kementerian yang menjadikan desa dan UMKM sebagai subjek, baik Kementrian Pariwisata & UKM melalui Desa Wisata, Kementrian Koperasi & UKM, Kementrian Desa Tertinggal, maupun Kementrian lainnya,” jelasnya.

Karena itu, Jose juga berharap pemerintah serius mengucurkan sebagian dana-dana untuk UMKM, termasuk untuk program Kampung Industri Asprindo mengingat stakeholder Kampung Industri adalah UMKM di bawah binaan Asprindo.

“Saya bermimpi bahwa Asprindo bukan sekadar membantu pemerintah membuka lapangan kerja, menggiatkan ekonomi kreatif, tapi benar-benar menjadikan pengusaha UMKM mandiri. Termasuk membuat produk-produk UMKM bersaing di pasar global. Ini membutuhkan kesungguhan, kerjasama dan kolaborasi kita bersama,” pungkas Jose Rizal.

(Red)

loading...

Balasan