Home Opini Nasionalisasi Dari Asing Ke PLN Adalah Hasil Kerja Masyumi Bukan PKI !!

Jakarta, SN – Dalam naskah “Sejarah Berdirinya PLN” yang dibacakan setiap Upacara HLN (Hari Listrik Nasional) setiap tanggal 27 Oktober, disana tertera dng jelas riwayat berdirinya PLN yaitu dari pergerakan para buruh listrik perusahaan Belanda seperti Ogem, Aniem, Gebeo, NIGMN, Ebalom dan lain-lain yang di koordinir oleh Mr. Kasman Singodimedjo dari Masyumi.

Yang selanjutnya, dari hasil kerja diatas MR. Kasman Singodimedjo melaporkannya kepada Presiden Soekarno dan berdirilah Perusahaan Gas dan Listrik Negara. Yang dalam perkembangannya dipisah menjadi PN Gas dan PLN !

Siapakah sosok MR. Kasman Singodimedjo itu ?

Mr. Kasman Singodimedjo adalah kader Partai Masyumi yang juga dikenal sbg Jaksa Agung RI yang pertama (1945 – 1946 ) dan juga Menteri Kehakiman era PM. Amir Syarifuddin II.

Beliau inilah yang “membidani” lahirnya pasal 33 ayat (2) UUD 1945 dng referensi Ideologi Islam dimana “barang kepemilikan publik” (Public good) spt air, ladang (tambang) dan energi ( listrik, BBM, gas dan lain-lain) harus dimiliki dan dikelola oleh Negara, dan dilarang dimiliki secara orang perorang atau swasta.

Tegasnya, “doktrin” Islam yang menjadi referensi Konstitusi diatas ada dalam sebuah Hadhist Riwayat Ahmad : ” Almuslimuuna shuroka’u fiishalasin fil ma’i wal kalaa’i wan nar wa shamanuhu haram” yang artinya Umat Islam itu berserikat atas tiga hal yaitu air, ladang (tambang) dan api (energi) , tiga hal tsb diharamkan harganya (dilarang dikomersialkan) dan harus dikuasai Negara !

Dengan referensi Hadhist diatas maka disetting lah pasal 33 ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi, “Cabang produksi yang penting bagi Negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai Negara”. (Dan dalam Sidang MK terbukti kelistrikan yang dikelola PLN mengacu pada pasal 33 ayat (2) UUD 1945 dimaksud).

Dalam perkembangan selanjut nya tersebar informasi bahwa Nasionalisasi perusahaan listrik Asing era pasca Kemerdekaan itu dilakukan oleh PKI. Berita semacam itu memang sempat disebar PKI dalam kampanye Pemilu 1955 sehingga PKI berhasil meraih tempat keempat hasil Pemilu, krn keberhasilan PKI “mengecoh” rakyat dng issue kerakyatan diantaranya issue Nasionalisasi. Disinilah kehebatan PKI dalam menyusup disegala lini termasuk lini Islam.

Memang ada “irisan strategis” antara gesture PKI dng Islam. Yaitu sama2 pro rakyat. Cuma bedanya kalau PKI pro rakyat hanya dalam rangka menggalang massa demi kekuasaan , dan setelah berkuasa ideologi bisa berubah menjadi Kapitalis dan rakyat ditinggal (seperti terjadi didepan mata saat ini ). Sedang Islam pro rakyat diantaranya krn “doktrin” Hadhist diatas.

Oleh : Ahmad Daryoko
Koordinator INVEST

loading...

Balasan